Entri Populer

Kamis, 20 Juni 2013

frasa

FRASA 1. Pengertian Frasa Banyak sering memeprmasalahkan antara frasa dengan kata, ada yang membedakannya dan ada juga yang mengatakan bahwa keduanya itu sama. Seperti yang telah dipelajari dalam morfologi bahwa kata adalah adalah satuan gramatis yang masih bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Frasa adalah satuan konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf, 1984:138). Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222). Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa. Contoh: 1. gedung sekolah itu 2. yang akan pergi 3. sedang membaca 4. sakitnya bukan main 5. besok lusa 6. di depan. Jika contoh itu ditaruh dalam kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja. 1. Gedung sekolah itu(S) luas(P). 2. Dia(S) yang akan pergi(P) besok(Ket). 3. Bapak(S) sedang membaca(P) koran sore(O). 4. Pukulan Budi(S) sakitnya bukan main(P). 5. Besok lusa(Ket) aku(S) kembali(P). 6. Bu guru(S) berdiri(P) di depan(Ket). Jadi, walau terdiri dari dua kata atau lebih tetap tidak melebihi batas fungsi. Pendapat lain mengatakan bahwa frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat. Contoh: 1. Mereka(S) sering terlambat(P). 2. Mereka(S) terlambat(P). Ket: ( _ ) frasa. Pada kalimat pertama kata ‘mereka’ yang terdiri dari satu kata adalah frasa. Sedangkan pada kedua kata berikutnya hanya kata ‘sering’ saja yang termasuk frasa karena pada jabatan itu terdiri dari sua kata dan kata ‘sering sebagai pemadunya. Pada kalimat kedua, kedua katanya adalah frasa karena hanya terdiri dari satu kata pada tiap jabatannya. Dari kedua pendapat tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa frasa bisa terdiri dari satu kata atau lebih selama itu tidak melampaui batas fungsi atau jabatannya yang berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan. Jumlah frasa yang terdapat dalam sebuah kalimat bergantung pada jumlah fungsi yang terdapat pada kalimat itu juga. Sebelum mengenal lebih jauh tentang frasa, alangkah lebih baiknya jika mengenal tentang fungsi-fungsi sintaksisi, karena fungsi-fungsi itula yang disebut frasa. Fungsi sintaksisi ada lima, yaitu Subjek(S), Predikat(P), Objek(O), Pelengkap(Pel), dan Keterangan(Ket). Dari kelima fungsi tersebut hanya karakteristik dari Keterangan saja yang tidak mempunyai lawan. 1. Subjek dan Predikat. 1. Bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan ‘Apa atau Siapa yang tersebut dalam predikat’. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan ‘yang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lain-lain’. Contoh: Sedang belajar(P) mereka itu(S). Fungsi tersebut bisa dibuktikan dengan pertanyaan ‘Siapa yang sedang belajar? Jawabannya ‘mereka itu’. 2. Berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi. 3. Jika diubah menjadi kalimat tanya, subjek tidak dapat diberi partikel –kah. Predikat dapat diberi partikel –kal. Contoh: Merka itu(S) sedang belajar(P). Sedang belajarkah mereka itu? Merekakah sedang belajar? (salah) 2. Objek dan Pelengkap. 1. Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina, sedangkan pelengkap berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, preposisi, dan pengganti nomina. 2. Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif(memerlukan objek) atau semi-transitif dan pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intransitif(tidak memerlukan objek). 3. Objek dapat diubah menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek. Contoh: 1. Transitif(memerlukan objek) 1. Orang itu(S) menjual(P). (Salah) 2. Orang itu(S) menjual(P) es kelapa muda(O) 2. Semi-transitif (bisa atau tidak perlu objek) 1. Orang itu(S) minum(P). 2. Orang itu(S) minum(P) es kelapa muda(O). 3. Es kelapa muda(S) diminum(P) orang itu(O). 3. Intransitif(tidak memerlukan objek). 1. Tidak lengkap. Orang itu(S) mandi(P). 2. Semi-lengkap. 1. Orang itu(S) berjualan(P). 2. Orang itu(S) berjualan(P) es kelapa muda(Pel). 3. Lengkap. 1. Organisasi itu(S) berlandaskan(P). (salah) 2. Organisasi itu(S) berlandaskan(P) kegotongroyongan(Pel). 3. Keterangan. 1. Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek, predikat, objek atau pelengkap. 2. Berupa frasa nomina, preposisi, dan konjungsi. 3. Mudah dipindah-pindah, kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan pelengkap. Contoh: Dulu(Ket) orang itu(S) menjual(P) es kelapa muda(O) di jalan surabaya(Ket). 2. Jenis Frasa Jenis frasa dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya) dan berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya. 1. Berdasarkan Persamaan Distribusi dengan Unsurnya (Pemadunya). Berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya, frasa dibagi menjadi dua, yaitu Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris. 1. Frasa Endosentris, kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu, dpat digantikan oleh unsurnya. Unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu yang disebut unsur pusat (UP). Dengan kata lain, frasa endosentris adalah frasa yang memiliki unsur pusat. Contoh: Sejumlah mahasiswa(S) diteras(P). Kalimat tersebut tidak bisa jika hanya ‘Sejumlah di teras’ (salah) karena kata mahasiswa adalah unsur pusat dari subjek. Jadi, ‘Sejumlah mahasiswa’ adalah frasa endosentris. Frasa endosentris sendiri masih dibagi menjadi tiga. 1. Frasa Endosentris Koordinatif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang berbeda diantara unsurnya terdapat (dapat diberi) ‘dan’ atau ‘atau’. Contoh: 1. rumah pekarangan 2. suami istri dua tiga (hari) 3. ayah ibu 4. pembinaan dan pembangunan 5. pembangunan dan pembaharuan 6. belajar atau bekerja. 2. Frasa Endosentris Atributif, yaitu frasa endosentris yang disamping mempunyai unsur pusat juga mempunyai unsur yang termasuk atribut. Atribut adalah bagian frasa yang bukan unsur pusat, tapi menerangkan unsur pusat untuk membentuk frasa yang bersangkutan. Contoh: 1. pembangunan lima tahun 2. sekolah Inpres 3. buku baru 4. orang itu 5. malam ini 7. sedang belajar 8. sangat bahagia. Kata-kata yang dicetak miring dalam frasa-frasa di atasseperti adalah unsur pusat, sedangkan kata-kata yang tidak dicetak miring adalah atributnya. 3. Frasa Endosentris Apositif, yaitu frasa endosentris yang semua unsurnya adalah unsur pusat dan mengacu pada hal yang sama. Unsur pusat yang satu sebagai aposisi bagi unsur pusat yang lain. Contoh: Ahmad, anak Pak Sastro, sedang belajar. Ahmad, …….sedang belajar. ……….anak Pak Sastro sedang belajar. Unsur ‘Ahmad’ merupakan unsur pusat, sedangkan unsur ‘anak Pak Sastro’ merupakan aposisi. Contoh lain: 1. Yogya, kota pelajar 2. Indonesia, tanah airku 3. Bapak SBY, Presiden RI 4. Mamad, temanku. Frasa yang hanya terdiri atas satu kata tidak dapat dimasukkan ke dalalm frasa endosentris koordinatif, atributif, dan apositif, karena dasar pemilahan ketiganya adalah hubungan gramatik antara unsur yang satu dengan unsur yang lain. Jika diberi aposisi, menjadi frasa endosentris apositif. Jika diberi atribut, menjadi frasa endosentris atributif. Jika diberi unsur frasa yang kedudukannya sama, menjadi frasa endosentris koordinatif 2. Frasa Eksosentris, adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai UP. Contoh: Sejumlah mahasiswa di teras. 2. Berdasarkan Kategori Kata yang Menjadi Unsur Pusatnya. Berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya, frasa dibagi menjadi enam. 1. Frasa nomina, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. UP frasa nomina itu berupa: 1. nomina sebenarnya contoh: pasir ini digunakan utnuk mengaspal jalan 2. pronomina contoh: dia itu musuh saya 3. nama contoh: Dian itu manis 4. kata-kata selain nomina, tetapi strukturnya berubah menjadi nomina contoh: dia rajin → rajin itu menguntungkan anaknya dua ekor → dua itu sedikit dia berlari → berlari itu menyehatkan kata rajin pada kaliat pertam awalnya adalah frasa ajektiva, begitupula dengan dua ekor awalnya frasa numeralia, dan kata berlari yang awalnya adalah frasa verba. 2. Frasa Verba, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. Secara morfologis, UP frasa verba biasanya ditandai adanya afiks verba. Secara sintaktis, frasa verba terdapat (dapat diberi) kata ‘sedang’ untuk verba aktif, dan kata ‘sudah’ untuk verba keadaan. Frasa verba tidak dapat diberi kata’ sangat’, dan biasanya menduduki fungsi predikat. Contoh: Dia berlari. Secara morfologis, kata berlari terdapat afiks ber-, dan secara sintaktis dapat diberi kata ‘sedang’ yang menunjukkan verba aktif. 3. Frasa Ajektifa, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. UP-nya dapat diberi afiks ter- (paling), sangat, paling agak, alangkah-nya, se-nya. Frasa ajektiva biasanya menduduki fungsi predikat. Contoh: Rumahnya besar. Ada pertindian kelas antara verba dan ajektifa untuk beberapa kata tertentu yang mempunyai ciri verba sekaligus memiliki ciri ajektifa. Jika hal ini yang terjadi, maka yang digunakan sebagai dasar pengelolaan adalah ciri dominan. Contoh: menakutkan (memiliki afiks verba, tidak bisa diberi kata ‘sedang’ atau ‘sudah’. Tetapi bisa diberi kata ‘sangat’). 4. Frasa Numeralia, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia. Yaitu kata-kata yang secara semantis mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. Dalam frasa numeralia terdapat (dapat diberi) kata bantu bilangan: ekor, buah, dan lain-lain. Contoh: dua buah tiga ekor lima biji duapuluh lima orang. 5. Frasa Preposisi, frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda. Contoh: Penanda (preposisi) + Petanda (kata atau kelompok kata) di teras ke rumah teman dari sekolah untuk saya 6. Frasa Konjungsi, frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat. Contoh: Penanda (konjungsi) + Petanda (klausa, mempunyai P) Sejak kemarin dia terus diam(P) di situ. Dalam buku Ilmu Bahasa Insonesia, Sintaksis, ramlan menyebut frasa tersebut sebagai frasa keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang termasuk dalam kategori konjungsi. KLAUSA 1. Pengertian Klausa Klausa ialah satuan gramatikal, berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek (S) dan predikat (P), dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat (Kridalaksana dkk, 1980:208). Klausa ialah unsur kalimat, karena sebagian besar kalimat terdiri dari dua unsur klausa (Rusmaji, 113). Unsur inti klausa adalah S dan P. Namun demikian, S juga sering juga dibuangkan, misalnya dalam kalimat luas sebagai akibat dari penggabungan klausa, dan kalimat jawaban (Ramlan, 1981:62. Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa klausa adalah satuan gramatik yang terdiri atas predikat, baik diikuti oleh subjek, objek, pelengkap, keterangan atau tidak dan merupakan bagian dari kalimat. Penanda klausa adalah P, tetapi yang menjadi klausa bukan hanya P, jika mempunyai S, klausa terdiri atas S dan P. Jika mempunyai S, klausa terdiri dari atas S, P, dan O. jika tidak memiliki O dan Ket, klausa terdiri atas P, O, dan Ket. Demikian seterusnya.Penanda klausa adalah P, tetapi yang dianggap sebagai unsure inti klausa adalah S dan P. Penanda klausa adalah P, tetapi dalam realisasinya P itu bias juga tidak muncul misalnya dalam kalimta jawaban atau dalam bahasa Indonesia lisan tidak resmi. Contoh : Pertanyaan : kamu memanggil siapa? Jawaban : teman satu kampus  S dan P-nya dihilangkan. Contoh pada bahasa tidak resmi : saya telat!  P-nya dihilangkan. Klausa merupakan bagian dari kalimat. Oleh karena itu, klausa bukan kalimat. Klausa belum mempunyai intonasi lengkap. Sementara itu kalimat sudah mempunyai intonasi lengkap yang ditandai dengan adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut sudah selesai. Klausa sudah pasti mempunyai P, sedangkan kalimat belum tentu mempunyai P. 2. Jenis-jenis Klausa Ada tiga dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan klausa. Ketiga dasar itu adalah (1) Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya (BSI), (2) Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang menegatifkan P (BUN), dan (3) Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P (BKF). Berikut hasil klasifikasinya : 1. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya. Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya mengacu pada hadir tidaknya unsur inti klausa, yaitu S dan P. Dengan demikian, unsur ini klausa yang bisa tidak hadir adalah S, sedangkan P sebagai unsur inti klausa selalu hadir. Atas dasar itu, maka hasil klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya, berikut klasifikasinya : 1. Klausa Lengkap Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir. Klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi : 1. Klausa versi, yaitu klausa yang S-nya mendahului P. Contoh : Kondisinya sudah baik. Rumah itu sangat besar. Mobil itu masih baru. 2. Klausa inversi, yaitu klausa yang P-nya mendahului S. Contoh : Sudah baik kondisinya. Sangat besar rumah itu. Masih baru mobil itu. 2. Klausa Tidak Lengkap Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir. Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan. 2. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P. Unsur negasi yang dimaksud adalah tidak, tak, bukan, belum, dan jangan. Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P menghasilkan : 1. Klausa Positif Klausa poisitif ialah klausa yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P. Contoh : Ariel seorang penyanyi terkenal. Mahasiswa itu mengerjakan tugas. Mereka pergi ke kampus. 2. Klausa Negatif Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegaskan P. Contoh : Ariel bukan seorang penyanyi terkenal. Mahasiswa itu belum mengerjakan tugas. Mereka tidak pergi ke kampus. Kata negasi yang terletak di depan P secara gramatik menegatifkan P, tetapi secara sematik belum tentu menegatifkan P. Dalam klausa Dia tidak tidur, misalnya, memang secara gramatik dan secara semantik menegatifkan P. Tetapi, dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, kata negasi itu secara sematik bisa menegatifkan P dan bisa menegatifkan O. Kalau yang dimaksudkan 'Dia tidak mengambil sesuatu apapun', maka kata negasi itu menegatifkan O. Misalnya dalam klausa Dia tidak mengambil pisau, melainkan sendok. 3. Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P. Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P, klausa dapat diklasifikasikan menjadi : 1. Klausa Nomina Klausa nomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina. Contoh : Dia seorang sukarelawan. Mereka bukan sopir angkot. Nenek saya penari. 2. Klausa Verba Klausa verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba. Contoh : Dia membantu para korban banjir. Pemuda itu menolong nenek tua. 3. Klausa Adjektiva Klausa adjektiva ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva. Contoh : Adiknya sangat gemuk. Hotel itu sudah tua. Gedung itu sangat tinggi. 4. Klausa Numeralia Klausa numeralia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia. Contoh : Anaknya lima ekor. Mahasiswanya sembilan orang. Temannya dua puluh orang. 5. Klausa Preposisiona Klausa preposisiona ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona. Contoh : Sepatu itu di bawah meja. Baju saya di dalam lemari. Orang tuanya di Jakarta. 6. Klausa Pronomia Klausa pronomial ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial. Contoh : Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah. Sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya. 4. Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas : 1. Klausa Bebas Klausa bebas ialah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut. Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Dengan perkataan lain, klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu, sehingga kembali kepada wujudnya semula, yaitu kalimat. Contoh : Anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin. Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa. Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah. 2. Klausa terikat Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum : pangilan, salam, judul, motto, pepatah, dan kalimat telegram. Contoh : Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum. Semua tersangkan diinterograsi, kecuali dia. Ariel tidak menerima nasihat dari siapa pun selain dari orang tuanya. 5. Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat. Oscar Rusmaji (116) berpendapat mengenai beberapa jenis klausa. Menurutnya klausa juga dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat. Berdasarkan tatarannya dalam kalimat, klausa dapat dibedakan atas : 1. Klausa Atasan Klausa atasan ialah klausa yang tidak menduduki f ungsi sintaksis dari klausa yang lain. Contoh : Ketika paman datang, kami sedang belajar. Meskipun sedikit, kami tahu tentang hal itu. 2. Klausa Bawahan Klausa bawahan ialah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa yang lain. Contoh : Dia mengira bahwa hari ini akan hujan. Jika tidak ada rotan, akarpun jadi. 3. Analisis Klausa Klasifikasi dapat dianalisis berdasarkan tiga dasar, yaitu : 1. Berdasarkan fungsi unsur-usurnya 2. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya 3. Berdasarkan makna unsur-unsurnya. 1. Analisis Klausa Berdasarkan Fungsi Unsur-unsurnya Klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional yang di sini disebut S, P, O, pel, dan ket. Kelima unsur itu tidak selalu bersama-sama ada dalam satu klausa. Kadang-kadang satu klausa hanya terdiri dari S dan P kadang terdiri dari S, P dan O, kadang-kadang terdii dari S, P, pel dan ket. Kadang-kadang terdiri dari P saja. Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa ialah P. 1. S dan P Contoh : Budi(S) tidak berlari-lari(P) Tidak berlari-lari(P) Budi(S) Badannya(S) sangat lemah(P)  Sangat lemah(P) badannya(S) 2. O dan Pel P mungkin terdiri dari golongan kata verbal transitif, mungkin terdiri dai golongan kata verbal intransitif, dan mungkin pula terdirri ari golongan-golongan lain. Apabila terdiri dari golongan kata verbal transitif, diperlukan adanya O yang mengikuti P itu. Contoh : Kepala Sekolah(S) akan menyelenggarakan(P) pentas seni(O). Pentas seni(S) akan dislenggarakan(P) kepala sekolah(O) 3. KET Unsur klausa yang tidak menduduki fungsi S, P, O dan Pel dapat diperkirakan menduduki fungsi Ket. Berbeda dengan O dan Pel yang selalu terletak di belakang dapat, dalam suatu klausa Ket pada umumnya letak yang bebas, artinya dapat terletak di depan S, P dapat terletak diantara S dan P, dan dapat terletak di belakang sekali. Hanya sudah tentu tidak mungkin terletak di antara P dan O, P dan Pel, karena O dan Pel boleh dikatakan selalu menduduki tempat langsung dibelakang P. Contoh : Akibat banjir(Ket) desa-desa itu(S) hancur(P) Desa-desa itu(S) hancur(P) akibat banjir(O) 2. Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Kata atau Frase yang menjadi Unsurnya. Analisis kalusa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsur-unsur klausa ini itu disebut analisis kategorional. Analisis ini tidak terlepas dari analisis fungsional, bahkan merupakan lanjutan dari analisis fungsional. Contoh : Aku Sudah menghadap Komandan Tadi F S P O Ket K N V N Ket 3. Analisis Klausa Berdasarkan Kategori Makna dan Unsur-unsurnya. Dalam analisis fungsional klausa dianalisis berdasarkan fungsi unsur-unsurnya menjadi S, P, O, Pel dan Ket dalam analisis kategorial telah dijelaskan bahwa fungsi S terdiri dari N, fungsi P terdiri dari N, V, Bil, FD, fungsi O terdiri dari N, fungsi Pel terdiri dari N, V, Bil dan fungsi ket terdiri dari Ket, FD, N. Fungsi-fungsi itu disamping terdiri dari kategori-kategori kata atau frase juga terdiri dari makna-makna yang sudah barang tentu makna unsur pengisi fungsi berkaitan dengan makna yang dinyatakan oleh unsur pengisi fungsi yang lain. Contoh : Dinda Menemani Adiknya Di tempat tidur Beberapa saat F S P O Ket 1) Ket 2) K N V N FD N M Pelaku Pembuatan Penderita Tempat Waktu 1. Makna Unsur Pengisi P 1. Menyatakan makna "Perbuatan" Contoh : Dinda sedang belajar Frase sedang belajar yang menduduki fungsi P menyatakan makna "Perbuatan" yaitu perbuatan yang sedang dilakukan oleh "pelakunya" yaitu 'Dinda' 2. Menyatakan makna "Keadaan" Contoh : Rambutnya hitam dan lebat RUMAH itu sangat besar Lukanya sangat parah Kata-kata hitam, lebat, besar, dan parah semuanya merupakan makna keadaan. Makna keadaan dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu : 1. Keadaan relatif singkat. Keadaan ini mudah berubah. Misalnya : Rumah itu sangat bersih Kami sudah mengantuk 2. Keadaan yang relatif lama dan kecenderungannya tidak mudah berubah. Keadaan yang semcam ini secara khusus disebut sifat. Misalnya : Mahasiswa itu sangat rajin Perempuan itu ramah sekali Pohon cemara itu sangat tinggi 3. Keadaan yang merupakan runtutan perubahan keadaan yang disebut proses. Misalnya : Hujannya mereda Pengaruhnya semakin meluas 4. Keadaan yang merupakan pengalaman kejiwaan. Misalnya : Orang itu dapat memahami keinginan anaknya. Setiap orang menyukai perbuatan baik Orang itu sangat sayang kepada binatang 3. Menyatakan Makan 'Keberatan" Contoh : Para tamu di ruang depan Ariel berada diruang baca Dinda tinggal di luar kota Kata yang bercetak miring tersebut menjadi unsur pengisi P tidak menyatakan makna "perbuatan" dan "keadaan" melainkan menyatakan makna "keberadaan". 4. Menyatakan makna "pengenal" Contoh : orang itu adalah pegawai kedutaan Mereka adalah imahasiswa Um Dia adalah teman kecil saya 5. Menyatakan makna "jumlah" Contoh : Rumah itu dua rumah Anak orang itu lima Kaki meja itu empat 6. Menyatakan makana "perolehan" Contoh : Ariel memiliki mobil Dinda mendapat hadiah Sayur-sayuran itu mengandung banyak vitamin 2. Makna Unsur Pengisi S 1. Menyatakan Makna "pelaku" Contoh : Seorang perempuan tua membeli beras. Mahasiswa mengerjakan beberapa tes. 2. Menyatakan makna "alat" Contoh : Truk-truk itu mengangkut beras. Sebuah gambar menghiasi kamar kerjanya. 3. Menyatakan makna "sebab" Contoh : Banjir besar itu menghancurkan kota. Kamar itu panas karena perapian. 4. Menyatakan makna "penderita" Contoh : Benda itu dipukulkannya dengan batu lain. Jalan-jalan sedang diperbaiki. 5. Menyatakan makna "hasil" Contoh : Rumah-rumah banyak didirikan pemerintah. Novel itu dikarang oleh pengarang muda dari kalimantan. 6. Menyatakan makna "tempat" Contoh : Para turis banyak berkunjung ke pantai kutai. Gua itu belum pernah dimasuki orang. 7. Menyatakan makna "penerima" Contoh : Seorang ayah membelikan sepeda baru untuk anaknya Gadis itu akan dibuatkan rok oleh ibunya 8. Menyatakan makna "pengalaman" Contoh : Rambutnya hitam dan lebat Lukanya membesar 9. Menyatakan makna "dikenal" Contoh : Orang itu pegawai kedutaan Dia adalah teman saya 10. Menyatakan makna "terjumlah" Contoh : Kaki meja itu empat Anak orang itu lima 3. Makna Unsur Pengisi O (1) 1. Menyatakan makna "penderita" Contoh : Ia menebang pohon. Seorang laki-laki menurunkan dua koper. 2. Menyatakan makna "penerima" Contoh : Ahmad membeli buku baru untuk anaknya. Dinda membelikan baju baru bagi anaknya. 3. Menyatakan makna "tempat" Contoh : Banyak turis mengunjungi candi Borobudur. Petani itu menanam ubi-ubian di tegalnya. 4. Menyatakan makna "alat" Contoh : Polisi menembak penjahat dengan pistolnya Ia mengikatkan tali pada sebatang pohon. 5. Menyatakan makna "hasil" Contoh : Pemerintah membuat jalan-jalan baru. 4. Makna Unsur Pengisi O (2) 1. Menyatakan makna "penderita". Contoh : Ariel membelikan anaknya buku baru. 2. Menyatakan makna "hasil". Contoh : Penjahit membuatkan kebaya ibu. 5. Makna Unsur Pengisi PEL 1. Menyatakan makna "penderita". Contoh : Banyak mahasiswa belajar bahasa jerman. 2. Menyatakan makna "alat". Contoh : Ia bersenjatakan bambu runcing. 6. Makna Unsur Pengisi KET 1. Menyatakan makna "tempat" Contoh : Aku mengitari rumah dari samping. 2. Menyatakan makna "waktu" Contoh : Bapak kepala daerah pergi ke Jakarta kemarin. 3. Menyatakan makna "cara" Contoh : Pencuri itu lari dengan skripsi. 4. Menyatakan makna "peserta" Contoh : Ariel senang bercakap-cakap denganku 5. Menyatakan makna "alat" Contoh : Anak itu menulis dengan tangan kiri. 6. Menyatakan makna "sebab" Contoh : Orang itu menjadi gila karena tekanan hidup. 7. Menyatakan makna "pelaku" Contoh : Senayan mulai dihuni oleh beberapa olahragawan. 8. Menyatakan makna "keseringan" Contoh : Ariel telah menyerukan kata awas beberapa kali. 9. Menyatakan makna "perbandingan" Contoh : Ariel sangat pandai seperti kakaknya. 10. Menyatakan makna "perkecualian" Contoh : Anak-anak itu tidak boleh masuk kecuali saya. MAKNA PENGISI UNTUK UNSUR KLAUSA Predikat subjek Objek (1) Objek (2) Pelengkap Keterangan Pembuatan keadaan Keberadaan Pengenal Jumlah Pemerolehan Pelaku Alat Sebab Penderita Hasil Tempat Penerima Pengalaman Dikenal Terjumlah Penderita Penerima Tempat Alat Hasil Penderita Hasil Penderita Alat Tempat Waktu Cara Penerima Peserta Alat Sebab Pelaku Keseringan Perbandingan Perkecualian KALIMAT 1. Pengertian Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang kalimat dikemukan. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis harus memiliki S dan P (Srifin dan Tasai, 2002: 58).Panjang atau pendek, kalimat hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya (Wijayamartaya, 1991: 9). Pendapat laing mengatakan, kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun (Ramlan, 1981:6). Menurut Kridalaksana, kalimat adalah suatu bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan baik secara actual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksan dkk, 1984:224). Satu bagian nujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap, adalah kalimat (Keraf, 1978: 156). kalimat adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap). 2. Macam-macam Kalimat Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan kenis klausa yang terdapat di dalamnya, (2) jenis response yang diharapkan, (3) sifat hubungan actor_aksi, dan (4) ada tidaknya unsure negative pada kalimat utama. 1. Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor. 1. Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat minor dibedakan atas: 1. Kalimat minor berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan, pelengkap, atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana (Samsuri, 1985:278). Berdasarkan sumber penurunnya, kalimat minor berstruktur dibedakan atas: Kalimat elips, yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal. Contoh: Terserah saja. (Penyelesainnya terserah kamu saja) Kalimat jawaban, yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan-pertanyaan. Contoh : (Ada yang kau bawa itu?) Lukisan. Kalimat sampingan, yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat. Contoh : cepat) Meskipun hujan. (Dia tetap datang) Kalimat urutan, yaitu kalimat mayor, tetapi didahului oleh konjungsi, sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. (Samsuru, 1985:263) Contoh : Karena itu, harga minyak naik. 2. Kalimat minor tak berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi, dibedakan atas: Panggilan. Contoh : Bakso! Seruan, biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan. Contoh : Halo! Judul, merupakan suatu ungkapan topic atau gagasan. Contoh : Dampak negative penayangan TV. Semboyan, yaitu uangkapan ide secara tegas, tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa. Contoh : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Salam Contoh : Selamat pagi! Inskripsi, yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku, lukisan dsb.). Contoh : Untuk para pengikrar Sumpah Pemuda 1928. 1. Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, pembentuk yang inti saja. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, terdapat unsure pembentuk yang inti saja, berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya, kalimat mayor dapat dibedakan atas: 1. Kalimat majemuk subordinatif, yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : (a) salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau (b) atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain. Contoh : Yang berkaca mata hitam itu teman saya. Orang itu badannya sangat gemuk. Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong. 2. Kalimat majemuk koordinat, yaitu kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lain (Samsuri, 1985:316). Contoh : Semalam suntuk saya tidur di kursi, dan orang-orang itu bermain kartu. Mula-mula dinyalakannya api, lalu ditaruhnya cerek diatasnya. Dalam perang, kita harus berani membunuh lawan, kalau tidak kita sendiri yang dibunuh. 3. Kalimat majemuk rapatan, yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan, baik kesamaan subjek, predikat objek, maupun keterangan. Contoh : Rumah itu baru saja diperbaiki, tetapi sekarang sudah rusak. Saya mengerjakana bagian depan, adik bagian belakang. Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini, tetapi saya tinggal menempati saja. 2. Berdasarkan response yang diharapkan, kalimat dibedakan atas : 1. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (.) seperti ayo, mari; kata-kata persilahkan, seperti silahkan, dipersilahkan; dan kata larangan (jangan) (Ramlan, 1981:10). Contoh : Cita-cita anak itu sangat mulia. Saya tidak membawa uang sama sekali. Menurut teori Darwin, manusia merupakan keteturunan kera. 2. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan. Contoh : Kakak sudah menikah? Mengapa anak itu tidak tidur? Siapa pemilik rumah itu? 3. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri, 1985:276-278). Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah, demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel-lah. Kalimat perintah dapat bersifat negative. Untuk menegatifkan kalimat perintah, digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada bagian awal kalimat. Kaliamat perintah yang besifat negative beubah menjadi larangan. Contoh : Masuklah! Marilah kita belajar bersama-sama! Jangan membuang sampah di sembarang tempat! 3. Berdasarkan hubungan actor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas : 1. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan. Contoh : Anak itu memetik bunga di taman. Ayah membelikan kakak baju baru. Pembantu itu sedang menyapu halaman. 2. Kalimat pasif adalah kalimat yanmhg subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut. Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona (Samsuri, 1985:434) Contoh : Badannya dilumuri minyak. Kita apakan barang-barang ini? Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu. 3. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut. Contoh : Jangan menyiksa diri sendiri. Wanita itu berhias di depan cermin. 4. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan (Samsuri, 1985:198). Contoh : Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan. Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi. Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam d tanah lapang. 4. Bedasarkan ada tidaknya unsure negative pada klausa utama, kalimat dibedakan atas : 1. Kalimat firmatif, yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan. Contoh : Petani itu membajak sawah. Di Surabaya diresmikan patung Jendral Sudirman. Kami mendengar kabar bahwa pemberontakan di Iran sudah berakhir. 2. Kalimat negative, yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan, seperti tidak, tiada (tak), bukan, jangan. Unsure negative tidak dipakai di depan verba, adjektiva, adverbial, dan frase preposisi yang berfungsi sebagai keterangan. Unsure negatif bukan pada umumnya dipakai di depan nomina/frase nomina dan pronominal/frase pronominal. Unsure negative jangan digunakan untuk menegatifkan kalimat printah (samsuri, 1985:250) Contoh : Sedikitpun aku tidak ingin berbuat jahat. Bukan buku itu yang saya cari. Jangan kau biarkan adikmu bergaul dengan dia. SINTAKSIS 1. Pengertian Sintaksis Banyak pengertian dan definisi tentang sintaksis. Tentu saja diantara definisi-definisi yang diberikan oleh para ahli tersebut, memiliki persamaan maupun perbedaan, baik dalam jumlah aspek yang tercakup di dalamnya, maupun redaksi atau kata-kata yang digunakannya. Sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata, kelompok kata menjadi kalimat. Menurut istilah sintaksis dapat mendefinisikan : bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa, dan frasa (Ibrahim, dkk:1). Pendapat lain mengatakan, sintaksis adalah studi kaidah kombinasi kata menjadi satuan yang lebih besar, frase dan kalimat (Moeliono, 1976:103). Dan definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa satuan yang tercakup dalam sintaksis adalah frase dan ka1imat, dengan kata sebagai satuan dasarnya. Sintaksis (Yunani:Sun + tattein = mengatur bersama-sama) ialah bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. (Keraf, 1978:153). Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan terbesar dalam sintaksis dan setiap bahasa mempunyai kaidah sintaksis tersendiri yang tidak dapat diterapkan begitu saja pada bahasa yang lain. Bidang sintaksis (Inggris, syntax) menyelidiki semua hubungan antar kelompok kata (atau antar-frase) dalam satuan dasar sintaksis itu. Sintaksis itu mnempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata, tetapi di dalam satuan yang kita sebut kalimat (verhaar, 1981:70). Istilah sintaksis (Belanda, syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase (Ramlan, 2001:18). Dari definisi-definisi yang telah dikemukakan para ahli bahasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan kaidah kombinasi kata menjadi satuan gramatik yang lebih besar yang berupa frase, klausa, dan kalimat, serta penempatan morfem-morfem supra sekmental (intonasi) sesuai dengan struktur sematik yang diinginkan oleh pembicara sebagai dasarnya. 2. Cakupan Sintaksis Pembahasan sintaksis mencakup frase, klausa, kalimat, dan morfem-morfem suprasegmental (intonasi). Tetapi, dalam sintaksis, pembicaraan mengenai jenis kata mutlak diperlukan, karena (1) struktur frase dan kalimat hanya dapat dijelaskan melalui penggolongan (penjenisan) kata (Ramlan, 1976:27), dan (2) Studi tentang kalimat suatu bahasa yang merupakan rangkaian yang berstruktur dari kata-kata, tidak akan banyak artinya tanpa mempelajari yang unsur-unsur itu sendiri (Samsuri, 1985:74). Memang, kelas (jenis) kata tau kategori kata adalah bagian dari sintaksis (Kridalaksana, 1986:31). Dengan demikia, aspek-aspek ketatabahasaan yang tercakup dalam sintaksis adalah jenis kata, frase, klausa, kalimat, dan morfem-morfem Daftar Rujukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Ibrahim, Syukur, dkk. Bahan Ajar Sintaksis Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Malang. Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono. Samsuri. 1985. Tata Bahasa Indonesia Sintaksis. Jakarta: Sastra Budaya. Sugono, Dendy. 1986. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: C.V. Kilat Grafika. Rusnaji, Oscar. Aspek-aspek Linguistik. IKIP Malang. Wirjosoedjarmo. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Surabaya: Sinar Wijaya Rusnaji, Oscar. 1983. Aspek-aspek Sintaksis Bahasa Indonesia. IKIP Malang. Verhaar. 2004. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Alwi, Hasan dan Dery Sugono. 2002. Telaah Bahasa dan Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai. 2002. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar