Entri Populer

Kamis, 27 Desember 2012

PENGERTIAN MAKNA MENURUT PARA AHLI

I. Pengertian Makna Menurut Para Ahli (minimal 3 ahli) dan Letak Kesamaan dan Perbedaannya……??  Pengertian Makna Menurut 3 Ahli Yaitu : a) Menurut Mansoer Pateda (2001:79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. b) Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda 2001:82) mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. c) Menurut Ferdinand De Saussure (dalam buku Abdul Chaer,1994:286) mengungkapkan bahwa pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistic.  Letak Perbedaan dan Kesamaan Pendapat Para Ahli Yaitu : a) Perbedaan dari pengertian makna menurut para ahli di atas dapat dikatakan bahwa batasan tentang pengertian makna sangat sulit untuk di tentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata. b) Pensamaan dari pengertian menurut para ahli diatas adalah sama-sama mengungkapkan maksud pembicara, menjelaskan bahwa pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau prilaku manusia atau juga kelompok manusia, menjelaskan hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya. c) Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa pengertian makna merupakan bagian yang tidak dapat di pisahkan dari semantic dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. II. Manfaat Mempelajari Ilmu Semantik Bagi Calon Guru Yaitu : Banyak sekali yang perlu kita ketahui tentang manfaat dan kegunaan makna bagi seorang calon guru yakni untuk memperjelas kata yang akan di sampaikan dalam menyampaikan suatu materi baik secara lisan maupun tulisan, karena tampak kita mengetaui makna segala sesuatu, maka tidak ada gunanya argument yang akan kita terapkan dan tidak mempunyai kejelasan yang pasti, sehingga untuk di pahami dan kami banyak mengetahui tentang makna atau arti dan segala jenis makna. Di dalam proses berlogika atau berfikir rasional seorang guru harus mengetahui makna penerapan yang akan dia sampaikan sehingga memudahkan pola pikir dan sesuai dengan penerapan yang berstrukturan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Di dalam ilmu bahasa untuk memahami segala sesuatu yang harus mengetahui makna-makna dalam sebuah kata yang di dalam ilmu bahasa terdapat suatu ilmu yang mempelajari tentang sebuah makna yaitu semantic, semiotika, dll. Ja di, ilmu semantic sangat bermanfaat bagi kita calon guru, karena tanpa ilmu semantic seorang guru tidak dapat menyampaikan suatu materi dengan baik kalau dia mengajar dalam bidang studi semantic. III. Jenis-Jenis Makna Beserta dengan Contohnya…?? Jenis-jenis makna, karena bahasa itu digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidaupan bermasyarakat, maka makna bahasa itupun menjadi berbagai macam-macam yang dapat dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Berbagai nama dan jenis makna telah dikemukakan oleh orang dalam berbagai buku linguistic atau semantic. Abdul Chaer (1994:289-296) membagi jenis-jenis makna sebagai berikut: “makna leksikal, gramatikal, kontekstual, referensial dan non referensial, denotative, konotatif, konseptual, asosiatif, kata, istilah, idiom serta makna pribahasa”. 1. Makna Leksikal Makna Leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, makna apa adanya, atau makna yang ada yang ada dalam kamus. Misalnya, leksem “kuda” memiliki makna leksikal sejenis binatang berkaki empat yng biasa di kendarai, leksem “pensil” bermakna leksikal sejenis alat tulis atau alat belajar yang terbuat dari kayu dan arang, dan leksem “air” bermakna leksikal sejenis barang cair yang biasa digunakan dalam keperluan sehari-hari. 2. Makan Gramatikal Makna Gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya, dalam proses aplikasi prefix ‘ber-‘ dengan baju melahirkan makna gramatikal ‘mengenakan atau memakai baju ’, dengan dasar ‘kuda’ melahirkan makna gramatikal “bercampur”. Sintaksisasi kata-kata adik, menendang, dan bola menjadi kalimat adik menendang bola melahirkan makna gramatikal ; adik bermakna ‘pelaku’, menendang bermakna ‘aktif’, dan bola bermakna ‘sasaran’. 3. Makna Kontekstual Makna Kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam suatu konteks. Misalnya, makna konteks kata kepala pada kalimat-kalimat berikut : a. Rambut di kepala Kakek belum ada yang putih b. Sebagai guru yang baik dia harus menegur murid yang nakal c. Nomor induk anak itu ada di temannya d. Kepala paku dan kepala paku paying tidak sama bentuknya Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya yaitu tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa itu. Contohnya : “dua kali tiga berapa ?” 4. Makna Referensial Sebuah kata di sebut bermakna Referensial kalau ada referensinya, atau acuannya. Kata-kata seperti ‘kuda’, ‘merah’, dan ‘gambar’ adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial. Kata-kata seperti, dan, atau, karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna referensial karena kata-kata itu tidak mempunyai referensi. Berkenan dengan acuan ini ada sejumlah kata, yang disebut deiktik, yang acuannya tidak menetap pada satu wujud, melainkan dapat berpindah dari wujud yang satu ke wujud yang lain. Kata-kata yang deiktik ini adalah kata-kata yang pronominal, misalnya Dia,Saya, Kamu ; kata-kata yang menyatakan ruang, misalnya disini, disana, dan disitu ; kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok, kemarin dan nanti ; kata-kata yang disebut kata petunjuk, misalnya ini dan itu. Contoh pronominal kata mereka pada kalimat berikut yang acuannya tidak sama ; 1. “Tadi pagi mereka bertemu denagn Pak Budi”, kata Ina kepada Lila. 2. “O,ya?”, sahut Lila, “mereka juga bertemu beliau tadi pagi”. 3. “Dimana kalian bertemu beliau?”, Tanya Anton, “Mereka sudah lama tidak jumpa dengan beliau. Pada kalimat (a) kata saya mengacu kepada Ina, pada kalimat (b) mengacu pada Lila, dan kalimat (c) mengacu pada Anton. Contoh lain, kata disini pada kalimat (d) acuannya juga tidak sama dengan kata disini pada (e). 4. “ Tadi mereka lihat pak Budi duduk di sini, sekarang Dia kemana?”, Tanya Pak Rasyit kepada mahasiswa itu. 5. “Kami disini memang bertindak tegas terhadap penjahat itu”, Gubernur DKI kepada para wartawan dari luar negeri itu. Kata disini pada kalimat (d) acuannya adalah sebuah tempat duduk, tetapi pada kalimat (e) acuannya adalah satu wilayah DKI Jakarta Raya. 5. Makna Denotatif Makna Denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Umpamanya, kata Kurus bermakna denotative yang mana artinya ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal’. Kata bunga bermakna denotative yaitu ‘bunga yang seperti kita tanam di taman bunga. 6. Makna Konotatif Makna Konotatif adalah makna lain yang di tambahkan pada makna denotative yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Umpamanya, kata kurus pada contoh diatas, berkonotasi netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan. Tetapi ramping yaitu, sebenarnya bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakkan ; orang akan senang kalau dikatakan ramping. Sebaliknya, kata kerempeng, yang sebenarnya juga bersinonim dengan kata kurus dan ramping, mempunyai konotasi yang positif, nilai rasa yang tidak enak, orang akan tidak enak kalau dikatakan tubuhnya kerempeng.Dan juga kata bunga seperti contoh di atas, jika yang dikatakan “Si Ida adalah bunga kampung kami”, ternyata makna bunga tidak lagi sama dengan makna semula. Sifat bunga yang indah itu di pindahkan kepada Si Ida yang cantik. Dengan kata lain, orang lain melukiskan kecantikan Si Ida serupa bunga. 7. Makna Konseptual Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosisi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa di kendarai’, dan kata rumah memilki makna konseptual ‘bangunan tempat tinggal manusia’. 8. Makna Asosiatif Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu denagn sesuatu yang berada diluar bahasa. Misalnya, kata melati yang berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian, kata merah berasosiasi dengan berani dan kata buaya berasosiasi denagn jahat atau kejahatan. Makna asosiasi ini sebenarnya sama dengan lambang atau perlambangan yang digunakan oleh masyarakat pengguna bahasa untuk menyatakan konsep lain, yang mempunyai kemiripan dengan sifat keadaan, atau cirri yang ada dalam konsep asal kata tersebut. Jadi kata melati yang bermakna konseptual ‘sejenis bunga kecil yang berwarna putih dan berbau harum’ digunakan untuk menyatakan perlambangan kesucian, kata merah yang bermakna konseptual ‘sejenis warna terang mencolok’ digunakan untuk menyatakan perlambangan keberanian, dan buaya yang bermakna konseptual ‘sejenis binatang reptile buas yang yang memakan daging atau binatang apa saja termasuk bangkai yang digunakan untuk melambangkan kejahatan atau penjahat. Pendapat Leech (1976) seperti yang di kutip Abdul Chaer (1994:294), tentang makna asosiasi yang menyatakan bahwa, “dalam makna asosiasi ini juga yang dimaksud atau disebut makna konotatif, makna stalistika, makna efektif, dan makna kolakatif. Contohnya : a. berdiri ! (denagn suara pelan) b. berdiri ! (dengan suara keras) 9. Makna Kata Setiap kata leksem memiliki makna. Pada awalnya makna yang dimiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna denotative atau makna konseptual. Namun, dalam penggunaan makna kata itu baru menjadi jelas jika kita itu sudah berada dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Kita belum tahu makna kata jatuh, sebelum kata itu berada dalam konteksnya (seperti pada contoh 2.2.1 a-d). Oleh karena itudapat dikatakan bahwa makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Kata tangan dan lengan sebagai kata yang maknanya lazim dan di anggap sama, seperti pada contoh (a) dan (b) berikut ; a. Tangannya luka kena pecahan kaca b. Lengannya luka kena pecahan kaca Jadi, kata tangan dan kata lengan pada kedua kalimat diatas adalah bersinonim atau bermakna sama. 10. Makna istilah Yang disebut istilah adalah yang mempunyai makna yang pasti, jelas, dan tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Yang perlu kita di ingat adalah bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada bidang ke ilmuan atau kegiatan tertentu. Umpamanya, kata tangan dan kata lengan yang menjadi contoh diatas. Kedua kata itu dalam bidang kedokteran mempunyai makna yang berbeda. Tangan bermakna sebagai bagian dari pergelangan tangan sampai ke jari tangan, sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai kepangkal bahu. Jadi, kata tangan dan lengan sebagai istilah dalam ilmu kedokteran tidak bersinonim, karena maknanya berbeda. Dalam perkembangan bahasa memang ada sejumlah istilah, yang karena sering di gunakan, lalu menjadi kosa kata umum. Artinya, istilah itu hanya digunakan dalam bidang ke ilmuannya, tetapi juga telah di gunakan secara umum, diluar bidangnya. Dalam bahasa Indonesia, misalnya istilah spiral, virus, akomodasi telah menjadi kosa kata umum,tetapi istilah alomorf, alofon, morfem masih tetap sebagai istilah dalam bidangnya, belum menjadi koso kata umum. 11. Makna Idiom Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat di ramalkan dari makna unsure-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpamanya, secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ‘yang menjual menerima uang dan yang membeli dan menerima rumahnya, tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk menjual gigi tidak memiliki makna seperti itu, melainkan bermakna ‘tertawa keras-keras. Jadi, makna seperti yang dimiliki bentuk menjual gigi itulah yang di sebut makna idiomatical. Contoh lain dari idiom adalah membanting tulang dengan makna ‘bekerja keras’, meja hijau dengan makna ‘pengadilan’. 12. Makna Pribahasa Berbeda dengan idiom yang maknanya tidak dapat di ramalkan secara leksikal maupun secara gramatikal, maka yang di sebut pribahasa memiliki makna yang masih dapat di telusuri atau di lacak dari makna unsure-unsurnya. Karena adanya asosiasi antara makna asli dengan makna pribahasa. Umpamanya, pribahasa seperti anjing dan kucing yang bermakna ‘ihwal dua orang yang tidak pernah akur’.Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersuara memang selalu berkelahi, tidak pernah damai. Contoh lain, pribahasa tong kosong nyaring bunyinya yang maknanya orang yang banyak capkapnya biasanya tidak berilmu. Makna ini dapat ditarik dari asosiasi tong yang berisi bila dipukul tidak mengeluarkan bunyi, tetapi tong yang kosong akan mengeluarkan bunyi yang keras dan nyaring. IV. Pengelompokkan Jenis-Jenis Makna…? Bahasa pada dasarnya di gunakan untuk berbagai kegiatan dan keperlian dalam kehidupan bermasyarakat, maka makna bahasa pun sangat bermacam-macam bila dilihat dari beberapa kriteria dan sudut pandang. Jenis makna itu sendiri menurut Abdul Chaer dalam buku “Pengantar Semantik Bahasa Indonesia”, dibagi menjadi tujuh jenis makna, diiantaranya : 1. Berdasarkan jenis semantiknya di bedakan menjadi makna leksikal dan makna gramatikal. 2. Berdasarkan ada tidaknya raferen pada sebuah kata atau leksem di bedakan menjadi makna referensial dan maupun nonreferensial. 3. Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata atau leksem di bedakan menjadi makna denotasi dan makna konotasi. 4. Berdasarkan ketepatan makannya di bedakan menjadi makna kata dan makna istilah atau makna umum dan makna khusus. 5. Berdasarkan ada tidaknya hubungan (asosiasi,refleksi) makna sebuah kata dengan makna kata lain di bagi menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. 6. Berdasarkan bias atau tidak bisanya di ramalkan atau di telusuri, baik secara leksikal maupun gramatikal di bagi menjadi makna idiomatical dan makna pribahasa. 7. Kata atau leksem yang tidak memiliki arti sebenarnya, yaitu oposisi dari makna sebenarnya di sebut makna kias. DAFTAR PUSTAKA Harimurni Kridalaksana. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta : Grameria Pustaka Utama. Aminuddin. 1988. Semantik. Bandung : Sinar Baru. Abdul Wahab. 1995. Teori Semantik. Surabaya : Airlangga University Press. Abdul Chaer. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta. Mansoer Pateda. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar