Entri Populer

Jumat, 17 Januari 2014

Chrysophyta dan Phaeophyta




Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt. Karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Chrysophyta dan Phaeophyta” sesuai dengan syarat dan waktu yang telah ditentukan yang merupakan syarat wajib untuk memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Botani semester ganjil Tahun Akademik 2013/2014.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada orangtua yang telah turut membantu dalam doa, dan memotivasi kami dalam menyelesaikan makalah kami.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen matakuliah Botani yang telah memberikan tugas, petunjuk kepada kami sehingga kami termotivasi dan dapat menyelesaikan tugas ini. Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini.
Dengan terselesaikannya makalah ini, semoga dapat menambah pemantapan dan pemahaman belajar tentang Chrysophyta dan Phaeophyta. Mudah-mudahan makalah bisa bermanfaat ,walaupun masih terdapat kekurangan atau kesalahan dalam penyusunan maupun penempatan kata-kata. Oleh karena itu, dalam hal ini penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini ke depannya.


Sumbawa Besar,     Oktober 2013


Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. ii
BAB I.    PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
A.   Latar Belakang ...................................................................................................... 1
B.   Rumusan Masalah ................................................................................................. 2
C.   Tujuan Penulisan ................................................................................................... 2
BAB II.  PEMBAHASAN............................................................................................ ........... 3
A.    Chrysophyta (Alga Keemasan) ............................................................................. 3
B.     Phaeophyta (Alga Coklat)................................................................................... 10
BAB III. PENUTUP ............................................................................................................... 14
A.   Kesimpulan ......................................................................................................... 16
B.    Saran ................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 18


BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai Negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Sebagai Negara dengan luas wilayah lebih dari 70 %, salah satu kekayaan alam yang bisa kita manfaatkan adalah sumber daya alam hayati. Selain ikan, alternative hasil laut yang bisa diolah adalah alga meskipun tidak semua alga bisa digunakan.
Alga dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai ganggang merupakan tumbuhan talus karena belum memiliki akar, batang dan daun sejati. Algae (ganggang) dapat dibedakan menjadi tujuh kelompok yaitu : Cyanophyta, Cholrophyta, Euglenophyta, Pyrrophyta, Crysophyta, Phaeophyta, Rhodophyta. Berdasarkan pigmen dominannya ketujuh kelompok tersebut meliputi: Chrysophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta.
Salah satu manfaat dari alga adalah Chrysophyta yang merupakan bagian yang terdiri dari fitoplankton. Navicula merupakan fitoplankton dilaut sehingga dikenal sebagai grass of the sea. Beberapa hewan laut kecil seperti udang-udangan dan larva ikan memperoleh karbohidrat, lemak, dan protein dari diaromae. Sisa diaromae yang telah mati berbentuk deposit yang disebut tanah diatoni. Tanah diaromae sering dimanfaatkan sebagai penyerap trinitrogliserin (TNT) pada bahan peledak, campuran semen, sebagai bahan penggosok, bahan penyaring, solasi penyuling gasoline dan glukosa serta digunakan sebagai bahan untuk pembuat jalan. Adapun habitat alga adalah tempat-tempat yang berair baik air tawar maupun air laut.
Pada makalah ini akan di bahas secara mendalam tentang alga yaitu Chrysophyta dan Phaeophyta.









B.    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dibahas pada makalah ini, yaitu :
1.                  Apa yang dimaksud dengan Chrysophyta dan Phaeophyta?
2.                  Bagaimana Ciri-ciri umum Chrysophyta dan Phaeophyta?
3.                  Bagaimana Struktur Sel dan Struktur Tubuh?
4.                  Bagaimana Cara Perkembangbiakan pada Chrysophyta dan Phaeophyta?
5.                  Apa saja peranan dari Chrysophyta dan Phaeophyta?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini, yaitu :
1.      Agar mahasiswa memahami Definisi Chrysophyta dan Phaeophyta
2.      Agar mahasiswa memahami Ciri-ciri umum Chrysophyta dan Phaeophyta.
3.      Agar mahasiswa memahami Struktur Sel dan Struktur Tubuh.
4.      Agar mahasiswa memahami Cara Perkembangbiakan.
5.       Agar mahasiswa memahami peranan dari Chrysophyta dan Phaeophyta.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Chrysophyta (Alga Keemasan)
1.      Pengertian Chrysophyta
Nama Chrysophyta berasal dari bahasa yunani yaitu Chryos yang berarti emas. Chrysophyta adalah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Ganggang berwarna keemasan karena mengandung pigmen karoten dan xantofil. Alga ini digolongkan ke dalam 3 kelas, yaitu Kelas alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae), Kelas alga keemasan (Chrysophyceae), Kelas Diatom (Bacillariophyceae).
a.    Xanthophyceae (Kelas Alga Hijau Kuning)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHAQWYyxOgh-9jgC5omb7EbR-TorQbf3SVVVnzRFkPkAh_ZtmM9tHVBcMl8gLziOybOTk_uP7hHkoN1O_1dEJW9JAC7YqYVGAX788i7kEtXoFazj110Cj0T9Vnqd8kK9gb7nI3LL6G6H_b/s1600/15.jpg
Alga ini memiliki klorofil (pigmen hijau) dan xantofil (pigmen kuning) karena itu warnanya hijau kekuning-kuningan.
Contoh: Vaucheria
              
Vaucheria tersusun atas banyak sel yang berbentuk benang, bercabang tapi tidak bersekat. Filamen mempunyai banyak inti dan disebut Coenocytic. Berkembangbiak secara seksual yaitu dengan oogami artinya terjadi peleburan spermatozoid yang dihasilkan anteridium dengan ovum yang dihasilkan oogonium membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi filamen baru, reproduksi secara vegetatif dengan membentuk zoospora, zoospora terlepas dari induknya mengembara dan jatuh di tempat yang cocok menjadi filamen baru.
b.   Chrysophyceae (Kelas Alga keemasan)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgU-e3Vm9M4Gaxgcpqn9ACRrnFQgXaA7QfaStvq6433M8ItmPNjPpnzuq4TKgXBscrOuOqR647yXLP0gRyaXqEAsdjHYwDGi768fsR7lHd1gxdvVPh14G408Urg8ad_uG64tqbb791_yELS/s1600/16.jpg
Alga ini memiliki pigmen keemasan (karoten) dan klorofil. Tubuhnya ada yang bersel satu, reproduksi dilakukan secara aseksual yaitu dengan cara membelah diri. Contohnya Ochromonas dan bentuk koloni dan Synura sp.
Contoh: Synura sp
          
Contoh: Ochromonas
            








c.    Bacillariophyceae (Kelas Diatom)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhe2wm9qAwqYTDAmYEu2FkwoNnj9T-DIrPtDgczECVIXFZBe2v5qLkNG5fFtPkJPTTuHMBnLn74zHKqTjesGgULuRa55iUDJxpsUnT4hc4RgAh9xZaAe5OT1rNAtP6QU473TvYhholXggVR/s1600/17.jpg
Diatom banyak ditemukan dipermukaan tanah basah misal, sawah, got atau parit. Tanah yang mengandung diatom berwarna kuning keemasan. Tubuh ada yang uniseluler dan koloni. Dinding sel tersusun atas dua belahan yaitu kotak (hipoteca) dan tutup (epiteca). Reproduksi dilakukan secara aseksual yaitu dengan cara membelah diri.
Contoh: Navicula sp
   

2.      Ciri-ciri umum Chrysophyta
1.      Dinding sel sebagian besar tersusun dari silikat.
2.      Sel terdiri dari 2 bagian, tutup (epitheca) dan wadah (hypotheca), yang pinggir dari tutupnya agak melebihi ukuran pinggiran wadahnya (overlapping).
3.       Pigmen-pigmen terdiri dari chlorophil a, c, b carotene, xanthofil (vialoxanthin, diatixanthin, diadinoxanthin) yang warnanya agak kuning keemasan sehingga sering disebut alga keemasan.
4.      Macam-macam makanan cadangan hampir sama terdiri dari leukosin (karbohidrat) dan minyak (lemak) yang agak kuning warnanya.
5.       Pada umumnya berflagel yang tidak sama panjang dan bentuk sehingga kadang-kadang disebut Heterokontae (alga yang flagelnya tidak sama panjang).
6.       Paling berperan sebagai plankton dan merupakan produsen utama di laut.
3.      Struktur Tubuh Chrysophyta
Bentuk tubuh Chrysophyta kebanyakan bersel satu (uniseluler) dan bersel banyak (multiseluler) dan tubuhnya biasanya berbentuk seperti benang. Pigmen Chrysophyta berwarna keemasan, warna keemasan pada Chrysophyta disebabkan oleh karoten dan xantofil. Di samping itu Chrysophyta mempunyai pigmen fotosintesis termasuk klorofil dan karotenoid seperti fukoxantin dan diadinoxantin. Chrysophyta memiliki klorofil A dan C dan klorofil tersebut tersimpan didalam kloroplas yang berbentuk cakram atau lembaran.
Susunan tubuh Xantophyceae ada 3 bentuk, yaitu berbentuk sel tunggal (botrydiopsis), berbentuk filamen (tribonema), berbentuk tubular/tidak terbatas (vaucheria). Susunan tubuh Chrysophyceae ada 2 bentuk, yaitu berbentuk sel tunggal (ochroi), berbentuk koloni (synura d). Susunan tubuh Bacillariophyceae yaitu berbentuk sel tunggal dan berbentuk koloni dengan bentuk tubuh simetri bilateral (pennales) dan simetri radial (centrales).
4.      Habitat Chrysophyta
Habitat Chrysophyta biasanya terdapat ditempat-tempat yang basah, air laut, air tawar dan di tanah yang lembab. Untuk xantophyceae hidup di air tawar, air laut dan tanah dan chrysophyceae hidupnya di air laut dan air tawar sedangkan bacillariopphyceae di air laut, di air tawar ataupun pada tanah- tanah yang lembab.
5.      Cadangan Makanan
Cadangan makanan pada Chrysophyta berupa tepung krisolaminarin.Dan bahan simpanan utamanya adalah minyak dan krisolaminarin (leukosin) dan kanjinya tidak menimbun.
6.      Struktur Sel Chrysophyta
a.    Dinding sel
Chrysophyta umumnya tidak berdinding sel. Bila ada dinding selnya maka terdiri dari lorika. Atau tersusun dari lempengan silicon  atau tersusun dari cakram kalsium karbonat. Struktur selnya tidak mempunyai dinding selulosa dan membrannya menunjukkan silica.



b.   Isi sel
1.   Xantophyceae
Terdapat inti sel: berentuk tunggal dan berbentuk banyak inti. Terdapat plastid berbentuk cakram tanpa pienoid. Pigmen : klorofil a dan b, β karoten, xantofil.
2.   Chrysophyceae
Berinti tunggal, plastida terdiri dari 1 atau 2, pigmen berupa klorofil a, b, c, β karotin, xantofil, berupa lutein, diadinoxantin, fukoxantin dan dinoxantin.
3.   Bacillariophyceae
Berinti tunggal dan berinti diploid, pigmen berupa klorofil a dan c, β karotin, xantofil. ·
c.    Kloroplas
Kloroplas pada Chrysophyta berwarna coklat keemasan. Chrysophyta menunjukkan perbedaan struktur kloroplas dan sering kali terdapat tiga thylakoids disekitar peripher kloroplas (girdle lamina). Kloroplas terdiri dari dua membrane (CER), jarak periplastida antara dua kloroplas dan retikulum endoplasma sempit dan kurang adanya perbedaan struktur.
d.   Ribosom
Ribosom pada Chrysophyta terdapat pada permukaan luar CER (dua membrane kloroplas).
e.    Alat gerak
Chrysophyta memiliki alat gerak yang terdiri dari flagel dan jumlahnya tidak sama tiap marga (struktur dasar flagel pada alga mirip dengan flagel pada mahluk hidup lain. Susunan benang flagel menunjukkan pola 9+2 dengan tipe akronematik (whiplash) dan pantonematik (tinsei). Contoh: synura dan syracospaera mempunyai 2 flagel yang sama panjangnya, dinobryon dan ocromonas, mempunyai 2 flagel yang tidak sama panjangnya, chrysamoeba, memiliki 1 flagel. Kedudukan dan keadaan flagelumnya berbeda, selnya boleh menjadi uniflagerum atau biflagerum. Jika biflagelat, flagelumnya mungkin sama panjang atau tidak. Tingkat flagenta yang paling tinggi yaitu heterokontois. Susunan tubuhnya ada yang berbentuk sel tunggal dan berbentuk koloni. Sel heterokontous mempunyai 2 flagel yaitu flagel licin dengan bulu kaku seperti pipa atau mastigonema dalam dua baris.


f.    Vakuola kontraktil
Terdapat satu atau dua vakuola kontraktil dalam sel (tergantung pada spesies) yang terletak dekat dasar dari flagel. Masing-masing fakuola kontrakil terdiri atas vesikel kecil yang berdenyut dengan interfal yang teratur, mengeluarkan isinya dari sel. Fakuola kontraktil yang terdapat pada alga yang berflagel fungsi utamanya adalah osmoregulator.
g.   Badan Golgi
Badan golgi terletak di antara inti dan kontraltil fakuola. Badan golgi adalah organela yang terdapat pada sel eukariotik, baik hewan maupun tumbuhan yang strukturnya terdiri dari tumpukan fesikel bentuk cakram atau kantung.
h.    Nukleus
Nukleus dan kloroplas dihubungkan oleh membran kloroplas yang berhubungan dengan pembungkus inti.
7.      Perkembangbiakan Chrysophyta
Secara umum perkembangbiakan pada Chrysophyta terjadi secara generatif dan vegetatif. Perkembangbiakan vegetatif (aseksual) dengan pembelahan sel, fragmentasi, pemisahan koloni, dan pembentukan spora (aplanospora atau zoospora). Perkembangbiakan generatif (seksual) dengan konjugasi, isogami, anisogami, dan oogami.
8.      Klasifikasi Chrysophyta
Domain           :           Eukaryota
Kingdom         :           Chloromaiveolata
Divisi               :           Heterokontophyta
Class                :           Chrysophyta.
Alga ini digolongkan dalam 3 kelas yaitu Kelas alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae).
Kelas alga keemasan (Chrysophyceae), Kelas Diatom (Bacillariophyceae).


9.      Peranan Chrysophyta
a.       Peran positif
ü Chrysophyta sebagai bahan penggosok, bahan pembuat isolasi, penyekat dinamit, membuat saringan, bahan alat penyadap suara, bahan pembuat cat, pernis, dan piringan hitam.
ü Bidang industri
·      Asam alginat yang dihasilkan ganggang perang (ganggang keemasan) berperan   untuk pembuatan plastik kosmetik dan tekstil.
·      Dinding sel diatom banyak mengandung silikat. Sisa-sisa dinding sel diatom yang hidup di jaman lampau membentuk lapisan tanah yang dikenal sebagai tanah diatom. Tanah dapat dimanfaatkan sebagai bahan penggosok, isolasi, bahan dasar industri kaca, dan penyaring (karena berpori)
·      Navicula sp, yang mati membentuk tanah diatome dipakai sebagai bahan penyekat dinamit, penggosok dan saringan.
ü Bidang Perikanan Ganggang merupakan fitoplankton (plankton tumbuhan; plankton hewan disebut zooplankton) yang berfungsi sebagai makanan ikan.
ü Ekosistem Perairan Dalam ekosistem perairan, ganggang merupakan produsen primer, yaitu sebagai penyedia bahan organik dan oksigen bagi hewan-hewan air seperti ikan, udang dan serangga air.
ü biasanya chrysophyta dimanfaatkan sebagai indikator untuk menemukan minyak bumi.
b.      Peran negatif:
ü Alga dapat menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak.
ü  Alga dapat menurunkan PH.
ü Menyebabkan warna dan kekeuhan.
ü Beberepa jenis alga dapat mengeluarkan racun.
ü Dapat mengeluarkan lendir yang mengakibatkan waterbloom.
ü Ganggang keemasan sering disebut ganggang kersik karena mengandung silikat. Ganggang jenis ini tidak begitu membahayakan karena tidak menghasilkan racun akan tetapi ganggang ini dapat menimbulkan bau yang tidak enak. Selain itu juga menyebabkan kekeruhan pada air.


B.     Phaeophyta (Alga Coklat)
1.      Pengertian Phaeophyta
ganggang coklat adalah salah satu ganggang yang tersusun atas zat warna atau pigmentasinya. Phaeophyta (ganggang coklat) ini berwarna coklat karena mengandung pigmen xantofis. Bentuk tubuhnya seperti tumbuhan tinggi. Ganggang coklat ini mempunyai talus (tidak ada bagian akar, batang dan daun), terbesar diantara semua ganggang ukuran tulusnya mulai dari mikroskopik sampai makroskopik.
Ganggang ini juga mempunyai jaringan transportasi air dan makanan yang anolog dengan transportasi pada tumbuhan darat, kebanyakan bersifat autotrof.
2.      Ciri-ciri umum Phaeophyta
1.   Ganggang cokelat berwarna cokelat karena selain mengandung klorofil juga memiliki zat warna coklat (fukosantin).
2.   Hidup di air laut.
3.   Tubuhnya selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai semak (pohon) yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup didaerah beriklim dingin.
4.   Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat panjang, seperti pita, mengandung klofil serta xantofil.
5.   Ganggang coklat ini mempunyai talus (tidak ada bagian akar, batang dan daun), terbesar diantara semua ganggang ukuran talusnya mulai dari mikroskopik sampai makroskopik.Dan kebanyakan bersifat autotrof.
6.   Kloroplas berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa xantofil misalnya fukosantin.
7.   Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol.
8.   Dinding sel mengandung selulose dan asam alginate
3.      Struktur Tubuh Phaeophyta
Tubuh selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filament atau lembaran atau menyerupai semak atau pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup di lautan daerah iklim, dingin. Panjang tubuh maximum mencapai 100m.
4.      Habitat Phaeophyta
Phaeophyta sebagian besar hidup di air laut hanya beberapa saja yang hidup di air tawar. Dan ada yang terdampar di pinggir pantai, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat semacam akar (hold fast). Phaeophyta ini juga hidup di tempat yang bersuhu dinggin dan sedang. Phaeophyta ditemukan di seluruh dunia. Hampir semua adalah organisme laut dan lebih dingin, air aktif, meskipun beberapa lebih suka iklim tropis dan subtropis. Phaeophytes yang lebih sejuk karena iklim sejuk air itu mampu bertahan lebih tinggi konsentrasi karbon dioksida, yang digunakan dalam fotosintesis. Mereka ditemukan di lepas pantai hampir setiap negara.
Mereka adalah bagian penting dari flora laut, karena menyediakan makanan, tempat berlindung, pemijahan daerah, dan substrat untuk berbagai hewan laut.
5.      Cadangan Makanan
Cadangan makanan pada Phaeophyta berupa laminarin, yaitu sejenis karbohidrat yang menyerupai dekstrin yang lebih dekat dengan selulose dari pada zat tepung.selain laminarin juga ditemukan manitol minyak dan zat-zat lainnya.
6.      Struktur Sel Phaeophyta
Pada phaeophyta umumnya dapat ditemukan adanya dinding sel yang tersusun dari tiga macam polimer yaitu selulosa, asam alginat, fukan dan fukoidin.Algin dari fukoidin lebih kompleks dari selulose dan fukoidin lebih kompleks dari selulose dan gabungan dan keduanya membentuk fukokoloid.Dinding selnya juga tersusun atas lapisan luar dan lapisan dalam, lapisan luar yaitu selulosa dan lapisan dalam yaitu gumi.Tapi kadang-kadang dinding selnya juga mengalami pengapuran.Inti selnya berinti tunggal yang mana pana pada pangkal berinti banyak.
Dinding sel menyebabkan sel tidak dapat bergerak dan berkembang bebas, layaknya sel hewan.Namun demikian,hal ini berakibat positif karena dinding-dinding sel dapat memberikan dukungan,perlindungan dan penyaring(filter) bagi struktur dan fungsi sel sendiri. Dinding sel mencegah kelebihan air yang masuk ke dalam sel.Dinding sel terbuat dari berbagai macam komponen, tergantung golongan organisme.Pada tumbuhan, dinding-dinding sel sebagian besar terbentuk oleh polimer karbohidrat(pektin, selulosa, hemiselulosa, dan lignin sebagai penyusun penting).Pada bakteri, peptidoglikan (suatu glikoprotein) menyusun dinding sel.Fungi memiliki dinding sel yang terbentuk dari kitin. Sementara itu, dinding sel alga terbentuk dari glikoprotein, pektin, dan sakarida sederhana (gula).
7.      Alat Gerak Phaeophyta
Berupa flagel, terletak pada sel-sel perkembangbiakan dan letaknya lateral. Berjumlah 2 yang heterokon dan terdapat di bagian samping badannya yang berbentuk pir atau sekoci. Pada waktu bergerak ada yang panjang mempunyai rambuat-rambut mengkliat menghadapi kemuka dan yang pendek menghadap kebelakang. Dekat dengan keluarnya flagel terdapat bintik mata yang berwarna kemerah-merahan.
8.      Perkembangbiakan Phaeophyta
Perkembangbiakan vegetatif (aseksual) dengan fragmentasi dan membentuk spora (aplanospora dan zoospora). Zoospora yang dihasilkan memiliki 2 flagel yang tidak sama panjang dan terletak di bagian lateral.
Reproduksi generatif dengan membentuk alat kelamin yang disebut konseptakel jantan dan konseptakel betina. Didalam konseptakel jantan terdapat anteridium dan di dalam konseptakel betina terdapat oogonium yang menghasilkan ovum. Spermatozoid membuahi ovum yang menghasilkan zigot. perkembang biakan pada bangsa ganggang coklat ini terjadi secara vegetatif, sporik dan gametik. Perkembang biakan secara vegetatif dilakukan dengan cperantara cabang-cabang kecil yang dibentuk di bagian basal dari thalussnya atau dapat pula dilakukan secara fragmentasi thalussnya, Perkembangbiakan seksual dilakukan secara oogamis ganggang ini bersifat monoeisis atau diesis.
9.      Klasifikasi Phaeophyta
Divisi   :          Phaeophyta
Kelas   :          Phaeophyceae
Bangsa            :          Fucales
Suku    :          Sargassaceae
Marga  :           Sargassum
Jenis     :          Sargassum siliquosum
Gambar Phaeophyta
clip_image007[4]        clip_image011[4]


Ø Klasifikasi Berdasarkan tipe pergantian keturunan, phaeophyta dibagi dalam 3 golongan, yaitu:
1.      Golongan Isogeneratae
Isogeneratae yaitu golongan tumbuhan yang memiliki pergiliran keturunan isomorf. Sporofit dan gametofit mempunyai bentuk dan ukuran yang sama secara morfologi tetapi sitologinya berbeda.
Contoh: Dictyota dan Cutleria
Gambar Dictyota
              
Gambar Cutleria
        
2.      Golongan Heterogeneratae
Heterogeneratae yaitu golongan tumbuhan yang memiliki pergiliran keturunan yang heteromorf. Sporotif dan gametofitnya berbeda secara morfologi maupun sitologisnya. Contoh: Laminaria.






Gambar Laminaria
  
3.      Golongan Cyclosporae
Cylosporae yaitu golongan tumbuhan yang tidak memiliki pergiliran keturunan.
Contoh : Fucus.
Gambar Fucus
        
10.  Peranan Phaeophyta
a.       Peran positif
ü Ganggang coklat dapat dimanfaatkan dalam industri makanan
ü Phaeophyta sebagai sumber alginat banyak dimanfaatkan dalam dunia industri tekstil untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan industri, kalsium alginat digunakan dalam pembuatan obat-obatan senyawa alginat juga banyak digunakan dalam produk susu dan makanan yang dibekukan untuk mencegah pembentukan kristal es. Dalam industri farmasi, alginat digunakan sebagai bahan pembuat bahan biomaterial untuk teknik pengobatan.
ü Dapat digunakan sebagai pupuk organik karena mengandung bahan-bahan mineral seprti potasium dan hormon seperti auxin dan sylokinin yang dapat meningkatkan daya tumbuh tanaman untuk tumbuh, berbunga dan berbuah.
ü Macrocytis Pyrifers menghasilkan iodine (unsur yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit gondok).
ü Laminaria, Fucus, Ascophylum dapat menghasilkan asam alginat. Alginat biasanya digunakan sebagai pengental pada produk makanan (sirup, salad, keju, eskrim) serta pengentalan dalam industri (lem, tekstil, kertas, tablet antibiotik, pasta gigi) dan pengentalan produk kecantikan (lotion, krim wajah).
ü Macrocytis juga dibuat sebagai makanan suplemen untuk hewan ternak karena kaya komponen Na, P, N, Ca.
b.      Peran Negatif
ü Beberapa jenis menghasilkan racun.
Racun dihasilkan secara ekstraseluler atau dilepaskan pada saat terjadi blooming ganggang, yaitu populasi ganggang yang sangat padat hingga menutupi permukaan perairan.
ü Ganggang Prototheca wickerhamii merupakan patogen yang menyerang manusia yaitu dapat menyebabkan peradangan persendian.
ü Beberapa ganggang yang terbawa udara menyebabkan alergi.


















BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan
Adapun hal yang dapat disimpulkan dari pembahasan di atas, antara lain :
1.   Ciri umum dari Chrysophyta adalah berwarna keemasan karena kloroplasnya
mengandung pigmen karoten dan xantofil dalam jumlah banyak dibandingkan dengan klorofil.
2.   Struktur sel dari Chrysophyta umumnya tidak berdinding sel, isi selnya terdiri dari Xantophyceae, Chrysophyceae, Bacillariophyceae. Kloroplas pada Chrysophyta berwarna coklat keemasan, Ribosom, alat gerak berupa flagel, vakuola kontraktil, badan golgi, dan nukleus.
3.   Habitat dari Chrysophyta adalah ditempat-tempat yang basah, air laut, air tawar dan di tanah yang lembab.
4.   Reproduksi dari Chrysophyta terjadi secara generatif (seksual) dengan konjugasi, isogami, anisogami, dan oogami. Dan vegetatif (aseksual) dengan pembelahan sel, fragmentasi, pemisahan koloni, dan pembentukan spora.
5.   Kelas-kelas yang termasuk dalam Chrysophyta, kelas alga hijau-kuning (Xanthophyceae), kelas alga coklat-keemasan (Chrysophyceae), kelas diatom (Bacillariophyceae).
6.   Manfaat dari Chrysophyta sebagai bahan penggosok, bahan pembuat isolasi, penyekat dinamit, membuat saringan, bahan alat penyadap suara, bahan pembuat cat, pernis, dan piringan hitam.
7.   Phaeophyta atau Ganggang coklat adalah salah satu kelas dari dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Pigmen yang lebih dominan adalah pigmen xantofil yang menyebabkan ganggang berwarna coklat. Pigmen lain yang terdapat dalam Phaeophyt adalah klorofil A dan C serta karoten.
8.   Klasifikasi Phaeophyta Berdasarkan tipe pergantian keturunan, phaeophyta dibagi dalam 3 golongan, yaitu: Golongan Isogeneratae, Golongan Heterogeneratae dan Golongan Cyclosporae.
9.   Peran Negatif Phaeophyta, Beberapa jenis menghasilkan racun. Racun dihasilkan secara ekstraseluler atau dilepaskan pada saat terjadi blooming ganggang, yaitu populasi ganggang yang sangat padat hingga menutupi permukaan perairan.
10.  Peran positif ganggang coklat yaitu Sebagai sumber alginat banyak dimanfaatkan dalam dunia industri tekstil untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan industri, kalsium alginat digunakan dalam pembuatan obat-obatan senyawa alginat juga banyak digunakan dalam produk susu dan makanan yang dibekukan untuk mencegah pembentukan kristal es. Dalam industri farmasi, alginat digunakan sebagai bahan pembuat bahan biomaterial untuk teknik pengobatan.

B.     Saran
Adapun saran yang bisa penyusun berikan adalah sebagai berikut :
1.      Semoga pembaca sekalian bisa memanfaatkan isi makalah untuk sedikit menambah ilmu dalam mata kuliah Botani Tingkat Rendah.
2.      Adapun saran-saran yang dapat kami sampaikan dalam makalah ini yaitu semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan kedepannya dapat memberi kritik apabila terdapat kesalah dalam redaksi makalah ini guna perbaikan bagi penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang sangat besar. Manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan rasa, karsa dan daya cipta yang dimiliki. Salah satu bidang iptek yang berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi reproduksi. Teknologi reproduksi adalah ilmu reproduksi atau ilmu tentang perkembangbiakan yang menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk menghasilkan suatu produk (keturunan). Salah satu teknologi reproduksi yang telah banyak dikembangkan adalah inseminasi buatan. Inseminasi buatan merupakan terjemahan dari artificial insemination yang berarti memasukkan cairan semen (plasma semen) yang mengandung sel-sel kelamin pria (spermatozoa) yang diejakulasikan melalui penis pada waktu terjadi kopulasi atau penampungan semen. Berdasarkan pengertian di atas, maka definisi tentang inseminasi buatan adalah memasukkan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin wanita dengan menggunakan alat-alat buatan manusia dan bukan secara alami. Namun perkembangan lebih lanjut dari inseminasi buatan tidak hanya mencangkup memasukkan semen ke dalam saluran reproduksi wanita, tetapi juga menyangkut seleksi dan pemeliharaan sperma, penampungan, penilaian, pengenceran, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengangkutan semen, inseminasi, pencatatan, dan penentuan hasil inseminasi pada manusia dan hewan. Adapun tujuan dari inseminasi buatan adalah sebagai suatu cara untuk mendapatkan keturunan bagi pasutri yang belum mendapat keturunan. Makalah ini akan membahas tentang Inseminasi Buatan pada hewan ternak (Sapi). Inseminasi Buatan pada Sapi sering juga disebut dengan kawin suntik. Kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen yang telah dicairkan dan diproses terlebih dahulu) yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut 'insemination gun'. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sejarah perkembangan Inseminasi Buatan ? 2. Apa yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan ? 3. Apa saja teknik Inseminasi Buatan ? 4. Apa tujuan Inseminasi Buatan ? 5. Apa keuntungan dan kerugian dari Inseminasi Buatan ? 6. Bagaimana prosedur Inseminasi Buatan pada Sapi ? 7. Apa saja faktor – faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan pada Sapi ? 8. Apa dampak dari Inseminasi Buatan pada Sapi ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui perkembangan sejarah Inseminasi Buatan. 2. Untuk memahami pengertian dari Inseminasi Buatan. 3. Untuk mengetahui teknik Inseminasi Buatan. 4. Untuk mengetahui tujuan Inseminasi Buatan. 5. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian dari Inseminasi Buatan. 6. Untuk mengetahui prosedur Inseminasi Buatan pada Sapi. 7. Untuk mengetahui faktor – faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan pada Sapi. 8. Untuk mengetahui dampak dari Inseminasi Buatan pada Sapi.   BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau. Seorang pangeran arab yang sedang berperang pada abad ke-14 dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami birahi. Kemudian dengan akar cerdinya, sang pangeran dengan menggunakan suatu tampon kapas, sang pangeran mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya.Tampon tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi. Alhasil ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya. Inilah kisa awal tentang IB, dan setelah itu tidak lagi ditemukan catatan mengenai pelaksanaan IB atau penelitian ke arah pengunaan teknik tersebut. Tiga abad kemudian, barulah ada pengamatan kembali tentang reproduksi. Tepatnya pada tahun 1677, Anthony van Leeuwenhoek sarjana Belanda penemu mikroskop dan muridnya Johan amm merupakan orang pertama yang melihat sel kelamin jantan dengan mikroskop buatannya sendiri. Mereka menyebut sel kelamin jantan yang tak terhitung jumlahnya tersebut animalcules atau animalculae yang berarti jasad renik yang mempunyai daya gerak maju progresif. Di kemudian hari sel kelamin jantan tersebut dikenal dengan spermatozoatozoa. Pada tahun berikutnya, 1678, seorang dokter dan anatomi Belanda, Reijnier (Regner) de Graaf, menemukan folikel pada ovarium kelinci. Penelitian ilmiah pertama dalam bidang inseminasi buatan pada hewan piarann dialkukan oleh ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia, yaitu Lazzaro Spallanzani pada tahun 1780. Dia berhasil menginseminasi amphibia, yang kemudian memutuskan untuk melakukan percobaan pada anjing. Anjing yang dipelihara di rumahnya setelah muncul tanda-tanda birahi dilakukan inseminasi dengan semen yang dideposisikan langsung ke dalam uterus dengan sebuah spuit lancip. Enam puluh hari setelah inseminasi, induk anjing tersebut melahirkan anak tiga yang kesemuanya mirip dengan induk dan jantan uang dipakai semennya. Dua tahun kemudian (1782) penelitian spallanzani tersebut diulangi oleh P. Rossi dengan hasil yang memuaskan. Semua percobaan ini membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan mengunakan inseminasi dan menghasilkan keturunan normal. Spallanzani juga membuktikan bahwa daya membuahi semen terletak pada spermatozoatozoa, bukan pada cairan semen. Dia membuktikannya dengan menyaring semen yang baru ditampung. Cairan yang tertinggal diatas filter mempunyai daya fertilisasi tinggi. Peneliti yang sama pada tahun 1803, menyumbangkan pengetahuannya mengenai pengaruh pendinginan terhadap perpanjangan hidup spermatozoatozoa. Dia mengamati bahwa semen kuda yang dibekukan dalam salju atau hawa dimusim dingin tidak selamanya membunuh spermatozoatozoa tetapi mempertahankannya dalam keadaaan tidak bergerak sampai dikenai panas dan setelah itu tetap bergerak selama tujuh setengah jam. Hasil penemuannya mengilhami peneliti lain untuk lebih mengadakan penelitian yang mendalam terhadap sel-sel kelamin dan fisiologi pembuahan. Dengan jasa yang ditanamkannya kemudian masyarakat memberikan gelar kehormatan kepada dia sebagai Bapak Inseminasi. Perkenalan pertama IB pada peternakan kuda di Eropa, dilakukan oleh seorang dokter hewan Perancis, Repiquet (1890). Dia menasehatkan pemakaian teknik tersebut sebagai suatu cara untuk mengatasi kemajiran. Hasil yang diperoleh masih kurang memuaskan, masih banyak dilakukan penelitian untuk mengatasinya, salah satu usaha mengatasi kegagalan itu, Prof. Hoffman dari Stuttgart, Jerman, menganjurkan agar dilakukan IB setelah perkawinan alam. Caranya vagina kuda yang telah dikawinkan dikuakkan dan dengan spuit diambil semennya. Semen dicampur dengan susu sapi dan kembali diinsemiasikan pada uterus hewan tersebut. Namun diakui cara ini kurang praktis untuk dilaksanakan. Pada tahun 1902, Sand dan Stribold dari Denmark, berhasil memperoleh empat konsepsi dari delapan kuda betina yang di IB. Mereka menganjurkan IB sebagai suatu cara yang ekonomis dalam pengunaan dan penyebaran semen dari kuda jantan yang berharga dan memajukan peternakan pada umumnya. Penanganan IB secara serius dilakukan di Rusia, sebagai usaha untuk memajukan peternakan. Peneliti dan pelopor terkemuka dalam bidang IB di Rusia adalah Elia I. Ivannoff. Tahun 1899 ia diminta Direktur Peternakan Kuda Kerjaaan Rusia, untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan pemakaian IB. Dan dilah orang pertama yang berhasil melakukan IB pada sapi dan domba. Hasil spektakuler dan sukses terbesar yang diperoleh adalah di Askaniya-Nova (1912) yang berhasil menghasilkan 31 konsepesi yang 39 kuda yang di IB, sedang dengan perkawinan alam hanya diperoleh 10 konsepsi dari 23 kuda yang di IB. Tahun 1914, Geuseppe amantea Guru Besar fisiologi manusia di Roma, banyak mengadakan penelitian tentang spermatozoatologi, dengan hewan percobaan anjing, burung merpati dan ayam. Kemudian dia berhasil membuat vagina buatan pertama untuk anjing. Berdasar penemuan ini banyak peneliti lain membuat vagina buatan untuk sapi, kuda dan domba. Tahun 1926, Roemelle membuat yang pertama kali membuat vagina buatan untuk sapi, dan orang pertama yang membuat vagina buatan untuk domba dan kambing adalah Fred F. Mckenzie (Amerika Serikat) pada tahun 1931. Pada tahun 1938 Prof. Enos J. Perry mendirikan koperasi IB pertama di Amerika Serikat yang terletak di New Jersey. Kemajuan pesat dibidang IB, sangat dipercepat dengan adanya penemuan teknologi pembekuan semen sapi yang disposori oleh C. Polge, A.U. Smith dan A.S. Parkes dari Inggris pada tahun 1949. Mereka berhasil menyimpan semen untuk waktu panjang dengan membekukan sampai -79 0C dengan mengunakan CO2 pada (dry ice) sebagai pembeku dan gliserol sebagai pengawet. Pembekuan ini disempurnakan lagi, dengan dipergunakannya nitrogen cair sebagai bahan pembeku, yang menghasilkan daya simpan yang lebih lama dan lebih praktis, dengan suhu penyimpanan -169 0C. Inseminasi Buatan pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun limapuluhan oleh Prof. B. Seit dari Denmark di Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan Bogor. Dalam rangka rencana kesejahteraan istimewa (RKI) didirikanlah beberpa satsiun IB di beberapa daerah di awa Tenggah (Ungaran dan Mirit/Kedu Selatan), Jawa Timur (Pakong dan Grati), Jawa Barat (Cikole/Sukabumi) dan Bali (Baturati). Juga FKH dan LPP Bogor, difungsikan sebagai stasiun IB untuk melayani daerah Bogor dan sekitarnya, Aktivitas dan pelayanan IB waktu itu bersifat hilang, timbul sehingga dapat mengurangi kepercayaan masyarakat. Pada tahun 1959 dan tahun-tahun berikutnya, perkembangan dan aplikasi IB untuk daerah Bogor dan sekitranya dilakukan FKH IPB, masih mengikuti jejak B. Seit yaitu penggunaan semen cair umtuk memperbaiki mutu genetik ternak sapi perah. Pada waktu itu belum terfikirkan untuk sapi potong. Menjelang tahun 1965, keungan negara sangat memburuk, karena situasi ekonomi dan politik yang tidak menguntungkan, sehingga kegiatan IB hampir-hampir tidak ada. Stasiun IB yang telah didirikan di enam tempay dalam RKI, hanya Ungaran yang masih bertahan. Di Jawa Tenggah kedua Balai Pembenihan Ternak yang ditunjuk, melaksanakan kegiatan IB sejak tahun1953, dengan tujuan intensifikasi onggolisasi untuk Mirit dengan semen Sumba Ongole (SO) dan kegiatan di Ungaran bertujuan menciptakan ternak serba guna, terutama produksi susu dengan pejantan Frisien Holstein (FH). Ternyata nasib Balai Pembibitan Ternak kurang berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, kecuali Balai Pembibitan Ternak Ungaran, dan tahun1970 balai ini diubah namanya menjadi Balai Inseminasi Buatan Ungaran, dengan daerah pelayanan samapi sekarang di daerah jalur susu Semarang – Solo – Tegal. Inseminasi buatan telah pula digalakkan atau diperkenalkan oleh FKH IPB, di daerah Pengalengan, Bandung Selatan, bahkan pernah pula dilakukan pameran pedet (Calf Show) pertama hasil IB. Kemajuan tersebut disebabkan adanya sarana penunjang di daerah tersebut yaitu 1) rakyat pemelihara sapi telah mengenal tanda-tanda berahi dengan baik, 2) rakyat telah tahu dengan pasti bahwa peningkatan mutu ternak melalui IB merupakan jalan yang sesingkat-singkatnya menuju produksi tinggi, 3) pengiriman semen cair dari Bogor ke Pengalengan dapat memenuhi permintaan, sehingga perbaikan mutu genetik ternak segera dapat terlihat. Hasil-hasil perbaikan mutu genetik ternak di Pengalengan cukup dapat memberi harapan kepda rakyat setempat. Namun sayangnya peningkatan produksi tidak diikuti oleh peningkatan penampungan produksi itu sendiri. Susu sapi umumnya dikonsumsi rakyat setempat. Akibatnya produsen susu menjadi lesu, sehingga perkembangan IB di Pangalengan sampai tahun 1970, mengalami kemunduran akibat munculnya industri-industri susu bubuk yang menggunakan susu bubuk impor sebagai bahan bakunya. Kekurang berhasilan program IB antara tahun 1960-1970, banyak disebabkan karena semen yang digunakan semen cair, dengan masa simpan terbatas dan perlu adanya alat simpan sehingga sangat sulit pelaksanaanya di lapangan. Disamping itu kondisi perekonomian saat itu sangat kritis sehingga pembangunan bidang peternakan kurang dapat perhatian. Dengan adanya program pemerintah yang berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun yang dimulai tahun 1969, maka bidang peternakan pun ikut dibangun. Tersedianya dana dan fasilitas pemerintah akan sangat menunjang peternakan di Indonesia, termasuk program IB. Pada awal tahun 1973 pemerintah measukan semen beku ke Indonesia. Dengan adanya semen beku inilah perkembangan IB mulai maju dengan pesat, sehingga hampir menjangkau seluruh provinsi di Indonesia. Semen beku yang digunkan selema ini merupakan pemberian gratis pemerintah Inggris dansSelandia Baru. Selanjutnya pada tahun 1976 pemerintah Selandia Baru membantu mendirikan Balai Inseminasi Buatan, dengan spesialisasi memproduksi semen beku yang terletak di daerah Lembang Jawa Barat. Setahun kemudian didirikan pula pabrik semen beku kedua yakni di Wonocolo Suranaya yang perkembangan berikutnya dipindahkan ke Singosari Malang Jawa Timur. Untuk kerbau pernah pula dilakukan IB, yakni di daerah Serang, Banten, dengan IPB sebagai pelaksana dan Dirjen Peternakan sebagai sponsornya (1978). Namun perkembangannya kurang memuaskan karena dukungan sponsor yang kurang menunjang, disamping reproduksi kerbau belum banyak diketahui. IB pada kerbau pernah juga diperkenalakan di Tanah Toraja Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara dan Jawa Timur. Hasil evaluasi pelaksanaan IB di Jawa, tahun 1972-1974, yang dilaksanakan tahun 1974, menunjukan anka konsepsi yang dicapai selama dua tahun tersebut sangat rendah yaitu antara 21,3 – 38,92 persen. Dari survei ini disimpulkan juga bahwa titik lemah pelaksaan IB, tidak terletak pada kualitas semen, tidak pula pada keterampilan inseminator, melainkan sebagian besar terletak pada ketidak suburan ternak-ternak betina itu sendiri. Ketidak suburan ini banyak disebabkan oleh kekurangan pakan, kelainan fisiologi anatomi dan kelainan patologik alat kelamin betina serta merajalelanya penyakit kelamin menular. Dengan adanya evaluasi terebut maka perlu pula adanya penyemopurnaan bidang organisasi IB, perbaikan sarana, intensifikasi dan perhatian aspek pakan, manajemen, pengendalian penyakit. B. Inseminasi Buatan Teknologi modern pada zaman sekarang telah mampu mengatasi masalah kemandulan (bagi manusia) dan menghasilkan bibit-bibit unggul (bagi hewan yang dapat menguntungkan manusia), khususnya dalam bidang bioteknologi. Hal tersebut dapat dilakukan diantaranya dengan melalui inseminasi buatan. Dari hasil kemajuan bioteknologi tersbut, sekarang telah tersedia inseminasi buatan, fertilisasi atau pembuatan in vitro dan rahim kontrak. Kemajuan bioteknologi tersebut apabila diterapkan pada dunia hewan, maka akan mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi manusia. Namun, jika kemajuan bioteknologi diaplikasikan pada manusia, maka akan menghasilkan dampak yang positif dan dampak yang negatif. Dampak posotof dapat diambil dari orang-orang yang telah menikah, tetapi tidak bisa mempunyai anak, maka agar keinginan untuk mempunyai anak dapat terwujud, maka dapat dilakukan dengan melalui bayi tabung atau rahim kontrak. Sedangkan dampak negatifnya yaitu dapat menimbulkan kekacauan dalam sistem keturunan manusia. Maka sejak tahun 1956 dewan gereja di Roma telah mengutuk kegiatan tersebut dengan alasan bahwa inseminasi buatan dapat memisahkan tindakan prokreasi (kasih sayang terhadap anak, dan anak adalah karunia Tuhan yang harus dijunjung tinggi) dan persatuan cinta. Alasan lainnya yaitu kegiatan inseminasi melibatkan tindakan masturbasi yang dibutuhkan untuk mengeluarkan sperma. Inseminasi Buatan adalah salah Bioteknologi dalam bidang reproduksi ternak yang memungkinkan manusia mengawinkan ternak betina tanpa perlu seekor pejantan. Inseminasi Buatan merupakan suatu rangkain proses terencana dan terpogram karena menyangkut kualitas genetik ternak di masa yang akan datang. Pelaksanaan dan penerapan teknologi Inseminasi Buatan di lapangan dimulai dengan langkah pemilihan pejantan unggul sehingga akan lahir anak yang kualitasnya lebih baik dari induknya selanjutnya dari pejantan tersebut dilakukan penampungan semen, penilaian kelayakan semen, pengelolahan dan pengawetan semen dalam bentuk cair dan beku, serta teknik inseminasi ke dalam saluran reproduksi ternak betina (Depdiknas, 2001). C. Teknik Inseminasi Buatan 1. Teknik IUI (Intrauterine Insemination) Teknik IUI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan melalui leher rahim hingga ke lubang uterine (rahim). 2. Teknik DIPI (Direct Intraperitoneal Insemination) Teknik DIPI telah dilakukan sejak awal tahun 1986. Teknik DIPI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan langsung ke peritoneal (rongga peritoneum). Teknik IUI dan DIPI dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut bivalve speculum, yaitu suatu alat yang berbentuk seperti selang dan mempunyai 2 cabang, dimana salah satu ujungnya sebagai tempat untuk memasukkan/menyalurkan sperma dan ujung yang lain dimasukkan ke dalam saluran leher rahim untuk teknik IUI, sedangkan untuk teknik DIPI dimasukkan kedalam peritoneal. Jumlah sperma yang disalurkan/diinjeksikan kurang lebih sebanyak 0,5–2 ml. Setelah inseminasi selesai dilakukan, orang yang mendapatkan perlakuan inseminasi tersebut harus dalam posisi terlentang selama 10–15 menit. D. Tujuan Inseminasi Buatan 1. Memperbaiki mutu genetika ternak; 2. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ; 3. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama; 4. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur; 5. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin. E. Keuntungan dan Kerugian dari Inseminasi Buatan 1. Keuntungan Inseminasi Buatan a) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; b) Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik; c) Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding); d) Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama; e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar; g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin. 2. Kerugian Inseminasi Buatan a) Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi kebuntingan; b) Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil; c) Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama; d) Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test). F. Prosedur Inseminasi Buatan pada Sapi Prosedur Inseminasi Buatan adalah sebagai berikut: - Sebelum melaksanakan prosedur Inseminasi Buatan (IB), semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya dibawah air yang mengalir. Suhu untuk thawing yang baik adalah 37oC. - Jadi semen/straw tersebut dimasukkan dalam air dengan suhu badan 37oC, selama 7-18 detik. - Setelah dithawing, straw dikeluarkan dari air kemudian dikeringkan dengan tissue. - Kemudian straw dimasukkan dalam gun, dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih. - Setelah itu Plastic sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw. - Sapi dipersiapkan (dimasukkan) dalam kandang jepit, ekor diikat. - Petugas Inseminasi Buatan (IB) memakai sarung tangan (glove) pada tangan yang akan dimasukkan ke dalam rektum. - Tangan petugas Inseminasi Buatan (IB) dimasukkan ke rektum, hingga dapat menjangkau dan memegang leher rahim (servix), apabila dalam rektum banyak kotoran harus dikeluarkan lebih dahulu. - Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus yaitu pada daerah yang disebut dengan 'posisi ke empat'. - Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka keluarkanlah gun dari uterus dan servix dengan perlahan-lahan. G. Faktor – Faktor yang Menyebabkan Rendahnya Prosentase Kehamilan pada Sapi 1. Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek / rendah; 2. Inseminator kurang / tidak terampil; 3. Petani / peternak tidak / kurang terampil mendeteksi birahi; 4. Pelaporan yang terlambat dan / atau pelayanan Inseminator yang lamban; 5. Kemungkinan adanya gangguan reproduksi / kesehatan sapi betina. Jelaslah disini bahwa faktor yang paling penting adalah mendeteksi birahi, karena tanda-tanda birahi sering terjadi pada malam hari. H. Dampak dari Inseminasi Buatan pada Sapi Inseminasi Buatan yang dikembangkan oleh manusia bertujuan untuk memberi keuntungan atau meningkatkan kesejahteraan manusia. Namun, Inseminasi Buatan juga tidak lepas dari dampak negatif yang dapat ditimbulkannya.   1. Dampak Positif Inseminasi Buatan Dengan inseminasi buatan akan dihasilkan mutu ternak yang lebih baik. Hal ini akan menguntungkan para peternak sehingga dapat meningkatkan perekonomian mereka. 2. Dampak Negatif Inseminasi Buatan Inseminasi buatan tidak lepas dari kerugian atau dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Misalnya, jika waktu inseminasi buatan tidak tepat maka tidak akan terjadi kehamilan pada hewan ternak. Selain itu, dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang tidak diinginkan apabila ternak jantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik.   BAB III PENUTUP Kesimpulan Inseminasi buatan harus berlandaskan nilai etika tertentu, karena bagaimanapun juga perkembangan dalam dunia bioteknologi tidak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai agen moral dan subjek moral. Etika diperlukan untuk menentukan arah perkembangan bioteknologi serta perkembangannya secara teknis, sehingga tujuan yang menyimpang dan merugikan bagi kemanusiaan dapat dihindarkan. Dan yang penting perlu diterapkannya aturan resmi pemerintah dalam pelaksanaan dan penerapan bioteknologi, sehingga ada pengawasan yang intensif terhadap bahaya potensial yang mungkin timbul akibat kemajuan bioteknologi. Teknologi genetik Pemetaan genom Perbedaan genetik antar individu disebabkan oleh gen yang dibawanya. Sebuah gen adalah merupakan bagian dari DNA yang mengkode untuk protein tertentu. Diduga bahwa setiap individu ternak mempunyai ratusan ribu gen Beberapa gen ini mempunyai pengaruh sederhana dan langsung terhadap karakter individu ternak, seperti mengkode warna bulu. Hal ini berarti bahwa indiviu yang membawa gen tersebut dapat dengan mudah diidentifikasi dan diseleksi. Namun demikian, untuk ternak tertentu situasi ini merupakan kekecualian. Untuk banyak karakter, termasuk karakter karakter ekonomis seperti produksi susu atau produksi daging banyak gen berinteraksi untuk menghasilkan dampak akhir dan pada karakter ini susah untuk mengidentifikasi gen tunggal tertentu yang secara nyata memainkan peranan. Untuk mengidentifikasi individu dengan gen superior secara teliti, sering menghabiskan waktu dan perlu upaya untuk mengukur penampilan dari jumlah karakter-karakter yang berhubungan (termasuk keturunannya) dan perlu upaya untuk membandingkan hasil dengan data yang sama secara teliti pada individu-individu lain Dalam sepuluh tahun terakhir, perkembangan teknologi DNA menawarkan prospek untuk identifikasi secara genetik individu superior dengan berbagai banyak cara. Gen-gen fungsional pada setiap individu hanya terdiri atas fraksi kecil (dibawah 5%) dari total DNA individu.Banyak sisanya yang belum diketahui fungsinya . Namun demikian, sepanjang penyebaran genom merupakan ribuan unit kecil DNA dinamakan mikrosatelit yang kehadirannya menjadi berguna. Setiap mikro satelit mengandung sejumlah sekuens DNA sangat pendek (yaitu 5 – 15 bp) yang berulang.. Mikrosatelit ini dapat diamplikasi menggunakan polymerase chain reaction (PCR). Jika mikrosatelit tertentu terletak dekat dengan gen-gen fungsional yang berguna (misalnya gen untuk sintesis protein susu yang tinggi), maka dia akan cenderung diturunkan bersama. Kemudian mikrosatelit dapat digunakan sebagai marka genetik (genetik marker) untuk gen-gen fungsional. Tahap pertama dalam penggunaan mikro satelit dalam cara ini adalah untuk membangun suatu peta marka (atau linkage) yang meliput seluruh genom. Peta genom telah berkembang baik pada manusia mencit dan mulai meningkat pada spesies ternak. Resume penelitian yang terakhir (Kappes, 1999) melaporkan jumlah total lokus yang dipetakan pada sapi sebanyak 2850, 1774 untuk babi dan lebih dari 1000 untuk domba. Peta marka resolusi tertinggi untuk setiap spesies mengandung seribu 1425 marka untuk sapi, 1250 marka untuk babi, dan 500 marka untuk domba (Kappes, 1999). Tujuannya adalah untuk menghasillkan peta genetik padat yang cukup untuk membantu dalam penelitian : Gen tunggal dari karakter ekonomis penting, dan Lokus karakter kuantitatif (quantitative Traits Loci / QTL) yang menyumbang sebagian untuk pengamatan keragaman kontinu dari banyak karakter genetik yang bernilai ekonomis. Peta linkage ini akan digunakan untuk mengembangkan strategi untuk tujuan Seleksi dengan bantuan Marka (Marker assited selection / MAS) dalam mencapai perbaikan genetik yang cepat dari karakter yang bernilai ekonomis. Seleksi dengan Bantuan Marka Genetik ( MAS) Proses seleksi untuk suatu karakter tertentu dengan menggunakan marka genetik dinamakan “ Marker assisted Selection (MAS). MAS dapat mempercepat laju perbaikan genetik melalaui peningkatan ketepatan seleksi dan mengurangi interval gnerasi (Smith dan Simpson, 1986). Pengguanaan teknologi genetik dan MAS dalam produktsi ternak tekah bergerak dari konsep teori menjadi awal penerapan praktis selama tahun 1990. .Peta gen linkage kepadatan rendah dan medium telah dibuat umumnya terdiri atas beberapa ratus bahkan ribuan marka mikrosatelit yang terdistribusi sepanjang genome. Penggunaan teknik statisitik yang baik dan adanya data keluarga tiga generasi, maka keterkaitan antara marka dengan karakter produksi dapat diciptakan. Dampak dari pengembangan teknik teknologi telah berhasil menemukan gen-gen berguna dan potensil dikembangkan, akan tetapi hanya sedikit yang segera diseleksi, karena daerah-darah genom yang terlibat cenderung terlaulu besar. Oleh karena itu kerja berikutnya dibutuhkan untuk melokalisir gene atau gene-gene yang terlibat lebih teliti. Metodologi untuk menciptakan peta kepadatan tinggi masih terus berkembang dan sejumlah pendekatan telah digunakan. (Georges & Anderson, 1996). • Posisi kloning marka dari daerah – daerah yang telah ditentukan melalui pemotongan mikro kromosom atau menggunakan kromosom jamur buatan (Yeast Artificial Chromosom /YAC) atau kromosom bakteri buatan ( Bacterial Artificial Chromosom / BAC). • Melalui acuan silang terhadap genom manusia dan tikus yang telah terdokumentasi dengan baik. Cara ini memungkinkan untuk menduga lokasi fungsi gene dan juga sesuatu tentang aktivitas kerjanya ( Womack & Kata 1995) • Pada populasi dimana suatu karakter telah menjadi subjek untuk seleksi efektif , maka pemblokiran DNA sekitar gen yang diinginkan mungkin kurang terganggu oleh rekombinasi dibanding pemblokiran denga ukuran yang sama pada daerah yang tidak diseleksi. Dengan mempelajari keragaman sekitar daerah, dan perbedaan antara populasi yang diseleksi dengan yang tidak diseleksi, maka memungkinkan untuk menduga lokasi gen-gen ang penting (Charlier dkk, 1996). . Identifikasi marka genetik dan penggunaanya , dapat memperbesar prospek kedepan untuk pemulian sepertii karakter toleransi atau resistensi terhadap cekaman lingkungan maupun penyakit. Sebagai contoh, identifikasi gen karier untuk resistensi dan introduksi gen kedalam populasi telah dilakukan untuk resistensi terhadap Trichostrongylus colubriformis dan Haemonchus contortus (Gogolin – Ewen dkk 1990) Transgenik Transfer gen ( Transgenesis) artinya penyatuan stabil dari suatu gen dari spesies lain sehingga gen itu berfungsi pada ternak penerima dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ternak transgenic adalah seekor ternak dimana DNA keturunannya telah ditingkatkan melalui penambahan DNA dari sumber lain plasma benih orang tua melalui rekombinan DNA (Rege, 2000). Transfer gen atau membangun gen memungkinkan rekayasa gen-gen individu dibanding seluruh genom. Pada spesies mamalia, tranfer umumnya langsung dilakukan melalui penyuntikan dari DNA kedalam inti pada tahap awal perkembangan embrio Transfer gen telah dicapai pada semua pada semua spesies ternak utama dan sejak keberhasilan teknik ini pada tahun 1985, lebih dari 50 transfer gen telah disisipkan kedalam individu ternak. Karena begitu banyak tahap-tahapan proses transgenik terlibat, tingkat keberhasilan masih rendah, biasanya satu sampai dua persen (Cunningham , 1999). Teknik ini memerlukan biaya sangat besar pada kasus sapi, sehingga penelitianya lebih banyak dilakukan pada mencit, babi dan domba. Pada prinsipnya teknik transgenik terdiri dari dua metoda yaitu: penambahan gen dan penggantian gene ( Houdebine, 1998). Teknik transfer gen yang paling sering digunakan adalah mikroinjeksi langsung gen asing ke dalam pronukelus embrio pada tahap tertentu (seperti pada mamalia) atau dalam sitoplasma (pada vertebrata tingkat rendah dan invertebrata). Mikroinjeksi langsung gene sedikit kurang efektif dan terlalu mahal pada ternak besar. Sekarang, memungkinkan pada sapi perah, domba, kambing memproduksi embrio dengan harga relatif murah pada tingakt sel in-vitro, berasal dari oosit yang diisolasi dari ovarium berasal dari rumah potong hewan.(Crozet 1997). Embrio mendapat mikroinjeksi gene asing, kemudian dikultur secara in-vitro sampai tahap blastosis, dan selanjutnya ditransfer ke betina resipien. Ketika fragmen DNA dimasukkan kedalam suatu sel, maka akan terjadi penggabungan secara tepat dengan gen induk semang dengan syarat bagian gen asing dan gen induk semang mempunyai sekuens yang identik. Proses rekombinasi homolog ini yang menyebabkan penggantian suatu gen oleh gen asing sangat jarang terjadi pada sel mamalia ( maksimal kejadianna hanya 0,1 %). Secara umum bisa dikatakan bahwa pada spesies ternak sekitar satu dari sepuluh gen yang diinjeksikan dan embrio yang ditransfer , yang dapat hidup, maka tingkat keberhasilan gen – gen yang ditransfer atau membangun genetik hasil transfer hanya 10 % ( Wall, 1996). Namun demikian, hasil penelitian transfer gen dapat diterapkan untuk meningkatkan resistensi terhadap penyakit, sekresi rekombinan protein dalam air susu, dan perbaikan mutu genetik ( Houdebine, 1998) Beberapa hasil penelitian ternak transgenik memperlihatkan keuntungan ekonomis seperti transfer gen pertumbuhan pada babi ( Pursel & Rexroad, 1993), transfer gen sintesis asam amino Sisteine pada domba untuk meningkatkan produksi wool ( Powell dkk, 1994) dan gen toleransi terhadap dingin pada ikan Flounder ditransfer ke ikan salmon ( Hew, 1995 ) dan hormon insulin manusia secara rutin disintesis oleh gen pada bakteri transgenik . Dengan demikian, gen – gen unggul pada ternak langka atau dikhawatirkan akan punah dapat ditransfer kepada ternak lain agar bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Dengan berkembangnya teknologi ternak transgenik, maka sudah banyak gen-gen baru yang diintroduksi ke sapi, babi, domba dan kambing tanpa perkawinan, untuk berbagai kepentingan seperti pembuatan vaksin, system kekebalan, modifikasi kualitas air susu, dan modifikasi pertumbuhan dan komposisi karkas ( Wheeler et al , 2003). Prospektif Penerapan Bioteknologi . Secara keseluruhan penerapan bioteknologi, khususnya bidang peternakan di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia mempunyai prospek yang baik, bila terjadi penyebaran peningkatan Iptek para pakar bioteknologi pada berbagai disiplin ilmu dan berbagai pusat-pusat penelitian, baik di Perguruan Tinggi maupun Instansi Pemerintah. Adanya kepedulian pemerintah (political will) dalam pengembangan bioteknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat yang ada. Dalam hal ini perlu adanya identifikasi jenis bioteknologi apa yang paling mendesak untuk menangani masalah-masalah pertanian yang ada. Koordinasi antara pakar bioteknologi yang ada di berbagai pusat studi biotek harus terus ditingkatkan dan berkesinambungan. Hal ini sangat diperlukan untuk memonitoring penerapan biotek secara tepat dan benar pada berbagai tingkatan lapisan masyarakat dan di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Kendala yang menjadi factor pembatas bagai penerapan bioteknologi adalah rendahnya penelitian dasar yang dilakukan pada berbagai pusat studi bioteknologi . Hal ini menyebabkan perkembangan kemajuan bidang bioteknologi di Indonesia sangat lamban dan sangat tergantung kepada produk bioteknologi impor. Penerapan Hak Kekayaan Intelektual ( HAKI) yang bertujuan menjamin hak penemu dan meningkatkan kreativitas peneliti, berdampak negative terhadap proses transfer teknologi dari pakar Negara yang sudah berkembang ke pakar local , karena adanya keterbatasan dana untuk membayar royalty dari HAKInya. Adanya perbedaan persepsi yang ada di masyarakat tentang produk-produk bioteknologi juga mempengaruhi penerapan bioteknologi secara meluas di masyarakat. Oleh karena itu, dalam penerapan bioteknologi perlu memperhatikan factor-faktor yang dikemukakan diatas.

Senin, 30 September 2013

metode penelitian

 Metode penelitian kualitatif Metode penelitian kualitatif sudah dipakai sejak tahun 1960’an di berbagai bidang seperti pendidikan, politik, psikologi, sejarah, antropologi, ekonomi, komunikasi, studi media dan ilmu-ilmu humaniora (bahasa, sastra, seni, filsafat dan agama) dan terbukti handal untuk menjawab masalah yang tidak bisa dijangkau oleh metode penelitian kuantitatif, pertanyaan sebagaimana judul di atas tetap saja muncul hingga saat ini. Sebagai peminat metodologi penelitian, pada saat ujian disertasi untuk menyelesaikan studi doktor saya pun pernah ditanya ‘mengapa anda hanya meneliti empat orang sebagai subjek penelitian dan apakah hasilnya bisa digeneralisasikan, dan apakah model penelitian semacam itu ilmiah?’. Pertanyaan semacam itu sudah saya duga sebelumnya, sehingga dengan gampang saya menjawabnya. Saya memulai dengan memberikan argumen tentang nalar dasar metode penelitian kualitatif di bawah payung paradigma interpretif (maaf, bukan interpretatif – sebagaimana yang sering saya baca dan dengar dari para mahasiswa dan dosen). Interpretif dan interpretatif merupakan dua istilah yang maknanya jauh berbeda. Interpretif merupakan istilah dalam filsafat ilmu untuk menggambarkan cara pandang yang kontras dengan positivistik, sedangkan interpretatif, menurut Given (2008: 458), merupakan proses memberi makna temuan penelitian menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat umum. Sepertinya tidak puas dengan jawaban yang saya sampaikan, penguji melanjutkan dengan pertanyaan ‘bukankah analisis data anda sebenarnya hanya hasil pikiran anda yang subjektif, sehingga sulit disebut ilmiah?’. Lagi-lagi saya menjawabnya juga dengan berpedoman pada nalar dasar penelitian kualitatif, bahwa peneliti memang instrumen utama penelitian. Sebagai instrumen utama, dia yang mencari tema, menyusun desain, membaca teori yang relevan, merumuskan fokus dan tujuan, mengumpulkan data, menganalisis data hingga membuat kesimpulan. Bahkan dia sendiri pula yang menentukan bahwa datanya sudah cukup dan penelitiannya sudah selesai atau belum. Tetapi perlu disadari bahwa melakukan semua tahapan dan proses penelitian secara sendiri tidak berarti melakukan sesuatu dengan semau dan sendirinya. Ada rambu-rambu dan pedoman yang harus dijadikan pegangan sebagaimana kegiatan ilmiah yang lain. Rambu dan pedoman itu sudah dikembangkan oleh para penggagas metode penelitian kualitatif sejak awal metode tersebut dipakai oleh para pakar di lingkungan aliran Chicago (school of Chicago) --- sekarang menjadi Universitas Chicago. Semula metode ini hanya dipakai dalam bidang antropologi dan sosiologi. Rambu-rambu yang dimaksud meliputi cara pandang (paradigm), hakikat, tujuan dan proses serta prosedur yang dilalui. Kesemuanya memang berbeda sangat tajam dengan metode penelitian kuantitatif yang sudah ada jauh sebelumnya. Saya sadar bahwa penguji yang menyampaikan pertanyaan kepada saya pada saat ujian disertasi memang berasal dari fakultas kedokteran dan selama ini bergelut dalam dunia positivistik. Para penanya itu tidak salah, tetapi mereka memang berada dalam alam pikiran yang berbeda dengan yang saya lakukan. Karena itu, adalah tugas saya sebagai orang yang diuji untuk menjelaskan dengan cara yang arif. Kembali ke judul tulisan di atas ‘apakah metode penelitian kualitatif ilmiah?’. Jika yang dimaksudkan ilmiah adalah ketersediaan data yang konkret atau empirik dan dapat diukur dengan angka dalam rumus statistik, jelas metode penelitian kualitatif tidak ilmiah. Sejak awal kelahirannya, metode penelitian kualitatif dimaksudkan untuk menangkap arti secara mendalam dari suatu peristiwa, gejala, fakta, realitas dan masalah tertentu. Justru untuk memperoleh arti yang mendalam itu tidak mungkin dilalui hanya dengan melihat yang tampak (empirik) lewat kuesioner dan uji laboratorium dan analisis statistik. Kedalaman makna hanya bisa dilalui dengan wawancara mendalam dan obervasi menyeluruh pada peristiwa yang diteliti. Selanjutnya jika yang dimaksud ilmiah adalah bahwa hasil penelitian bisa digeneralisasikan, maka metode penelitian kualitatif tidak bisa digolongkan sebagai karya ilmiah. Sebab, tujuan penelitian kualitatif memang tidak untuk membuat generalisasi dari temuan yang diperoleh. Istilah generalisasi (generalization) tidak dikenal dalam penelitian kualitatif. Sebagai padanannya dikenal istilah transferabilitas (transferability) dalam penelitian kualitatif. Tetapi maknanya sangat berbeda. Jika generalisasi merupakan rumusan atau temuan penelitian yang dapat berlaku dan diperlakukan secara umum bagi semua populasi yang diteliti, maka transferabilitas artinya adalah hasil penelitian kualitatif bisa berlaku dan diberlakukan di tempat lain manakala tempat lain yang dimaksudkan itu memiliki ciri-ciri yang mirip atau kurang lebih sama dengan tempat atau subjek penelitian diteliti. Selain itu, menurut Jensen (dalam Given, 2008: 886), transferabilitas juga diartikan sebagai proses menghubungkan temuan yang ada dengan praktik kehidupan dan perilaku nyata dalam konteks yang lebih luas.  Metode penelitian kuantitatif Metode penelitian kuantitatif yang jumlah populasi atau partisipannya besar biasanya peneliti menggunakan sampel. Karena itu, sampel yang dipilih harus memenuhi syarat keterwakilan agar hasilnya dapat berupa generalisasi. Semakin sampelnya representatif, maka semakin tinggi peluang generalisasi yang dihasilkan, dan sebaliknya. Dengan demikian, pertanyaan berapa jumlah populasi dan sampel yang diteliti sangat wajar dan seharusnya memang begitu. Sebaliknya, transferabilitas dapat diperoleh jika peneliti bisa menggali kedalaman informasi dan mampu mengabstraksikan temuan substantif menjadi temuan formal berupa thesis statement. Sebagaimana pernah dikupas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, yang dimaksudkan dengan temuan substantif adalah rumusan yang diperoleh peneliti sebagai jawaban atas fokus penelitian yang diajukan di awal. Dengan demikian, ketika peneliti kualitatif sudah berhasil merumuskan temuan sebenarnya penelitian belum bisa dikatakan selesai. Sebab, ia masih harus menyelesaikan satu tahapan --- yang justru sangat penting ---, yakni merumuskan temuan substantif menjadi temuan formal. Bagi penelitian untuk kepentingan penulisan disertasi, rumusan temuan formal wajib dilakukan. Ada dua hal yang mesti diperhatikan oleh peneliti kualitatif untuk meningkatkan transferabilitas, yaitu: (1) seberapa dekat subjek yang diteliti atau informan yang diwawancarai dengan konteks atau tema yang diteliti, dan (2) batasan kontekstual (contextual boundaries) dari temuan. Menurut Jensen (dalam Given, 2008: 886), ada dua strategi yang bisa dipakai peneliti untuk meningkatkan derajad transferabilitas, yakni: (1) ketersediaan data yang memadai (thick description of data), dan (2) pemilihan subjek atau partisipan yang dipilih secara purposif. Yang dimaksud dengan deskripsi data yang memadai (thick) jika peneliti bisa menyediakan informasi yang lengkap mengenai konteks, partisipan (subjek dan informan), dan desain penelitian yang jelas sehingga pembaca bisa membuat kesimpulan mengenai transferabilitas yang dihasilkan. Untuk memenuhi harapan itu, pilihlah informan yang menguasai tema yang diteliti. Dengan demikian, pertanyaan berapa banyak subjek dan informan dalam penelitian kualitatif --- sebagaimana saya alami --- sama sekali tidak relevan. Yang menjadi persoalan bukan jumlah subjek dan informan penelitiannya, melainkan kedalaman informasi yang diperoleh. Berikutnya lagi terkait dengan teori. Jika yang dimaksud ilmiah ialah ketiadaan pembuktian teori, maka metode penelitian kualitatif jelas tidak ilmiah. Sebab, metode kualitatif memang tidak dimaksudkan untuk membuktikan dan menguji teori, melainkan mengembangkan teori. Mengembangkan tidak berarti membuat teori yang baru sama sekali. Menghaluskan teori atau konsep yang sudah ada sebelumnya oleh peneliti terdahulu bisa disebut sebagai pengembangan teori. Setelah teori pertanyaan lainnya menyangkut hipotesis. Jika yang dimaksudkan ilmiah ialah ketersediaan hipotesis, maka jelas pula bahwa metode penelitian kualitatif tidak tergolong kerja ilmiah. Berbeda dengan metode penelitian kuantitatif yang harus dilengkapi dengan hipotesis untuk selanjutnya dibuktikan, maka metode penelitian kualitatif sebagaimana dinyatakan Devis (dalam Given, 2008: 408) tidak memerlukan hipotesis. Kalaupun ada, hipotesis itu bukan untuk dibuktikan, melainkan sebagai panduan agar penelitian bisa fokus ke tema atau isu tertentu. Semakin peneliti bisa terfokus pada isu tertentu, semakin dia memperoleh pemahaman yang mendalam. Sekadar mengingatkan, hipotesis adalah dugaan sementara atau atau pernyataan tentatif mengenlzaimai hubungan antarvariabel, antara variabel bebas dan variabel terikat. Istilah ‘variabel’ pun sebenarnya tidak begitu relevan dipakai dalam metodologi penelitian kualitatif karena topik atau masalah yang diangkat di dalam penelitian kualitatif tidak bisa dipisah-pisah menjadi bagian-bagian yang lazimnya disebut ‘variabel’ dalam tradisi positivistik. Yang terakhir menyangkut proses dan prosedur penelitian. Jika yang dimaksud ilmiah adalah proses penelitian harus berlangsung secara linier, maka jelas penelitian kualitatif tidak bisa disebut ilmiah. Sebab, proses penelitian kualitatif tidak berlangsung secara linier, melainkan siklus. Siklus artinya tahapan-tahapan penelitian mulai identifikasi masalah, pengumpulan data, hingga analisis dan penyimpulan data bisa berlangsung tidak berurutan. Misalnya, ketika peneliti sampai pada tahap analisis data dan ternyata informasi terkait data tersebut tidak lengkap, atau lengkap tetapi tidak jelas, maka peneliti bisa melakukan pengumpulan data kembali. Fokus penelitian pun bisa diubah ketika di lapangan peneliti menemukan isu yang lebih penting dan menarik untuk diangkat. Bahkan saya teringat ada judul penelitian disempurnakan setelah semua selesai untuk disesuaikan dengan hasil akhir penelitian dan untuk kepentingan publikasi yang lebih luas.  PTK ( Penelitian Tindakan Kelas ) Menurut Amat Jaedun (2008), penelitian tindakan kelas PTK adalah salah satu jenis penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dikelasnya (metode, pendekatan, penggunaan media, teknik evaluasi dsb). Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan didalam kelas. Penelitian tindakan kelas dapat dijadikan sarana bagi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara efektif. Penelitian tindakan kelas juga merupakan kebutuhan bagi guru dalam meningkatkan profesionalitasnya sebagai guru, karena (Sukanti, 2008): 1. Penelitian tindakan kelas sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran dikelasnya. Guru menjadi reflektif dan kritis terhadap apa yang guru dan siswa lakukan. 2. Peneltian tindakan kelas meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai praktisi yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan tanpa adanya upaya perbaikan dan inovasi namun dia bisa menempatkan dirinya sebagai peneliti dibidangnya. 3. Guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu pengkajian yang terdalam terhadap apa yang terjadi dikelasnya. 4. Penelitian tindakan kelas tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena tidak perlu meninggalkan kelasnya. Mengingat pentingnya penelitian tindakan kelas tersebut diatas, guru hendaknya mulai melakukan dan meningkatkan penelitiannya baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk mendorong dan memfasilitasi guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas, pemerintah secara rutin menyediakan dana block grant untuk penulisan karya ilmiah melalui penelitian tindakan kelas.  Tujuan Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan kelas secara umum dilaksanakan untuk memecahkan pemasalahan-permasalahan yang terjadi didalam kelas sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Disamping itu penelitian tindakan kelas dapat menumbuhkan sikap mandiri dan kritis guru terhadap situasi dan keadan didalam kelas yang diajarnya. Adapun tujuan lain dari penelitian tindakan kelas menurut Sukanti (2008) dan Ani W (2008) yaitu : 1. Memperbaiki mutu dan praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran. 2. Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. 3. Mengidentifikasi, menemukan solusi dan mengatasi masalah pembelajaran dikelas agar pembelajaran bermutu.Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya. 4. Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya. 5. Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya pendekatan, strategi, metode, media pembelajaran). 6. Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru. 7. Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum dan asumsi.  Metode penelitian deskriptif Pada dasarnya, teori psikologi yang penting berkembang dari penelitian deskriptif. dengan tujuan mengamati dan merekam perilaku. begitu pula dengan anda, sebelum anda memulai penelitian, ada baiknya anda mempelajari Metode Penelitian terlebih dahulu agar sesuai dan hasilnya pun bisa membanggakan. sebagai contoh mengenai psikologi, seorang psikolog mungkin mengamati tingkatan dimana Manusia saling membutuhkan sesamanya. penelitian deskriptif tidak dapat mengungkapkan apa penyebab beberapa gejala yang terjadi, tetapi dapat mengungkapkan informasi penting mengenai perilaku dan sikap manusia. Metode penelitian deskriptif meliputi pengamatan, survei dan wawancara, tes-tes yang terstandardisasi. kita akan mempelajari ketiga metode tersebut secara ringkas namun sederhana. adapun ketiga metode penelitian deskriptif adalah sebagai berikut : 1. Pengamatan Kita harus memiliki beberapa gagasan mengenai apa yang kita cari. kita harus mengetahui siapa yang kita amati, kapan dan dimana kita akan mengamati, dan bagaimana kita akan melakukan pengamatan. Jenis pengamatan ini menuntut sekumpulan keterampilan yang penting. kita mungkin tidak mengetahui apa yang ingin kita cari, tidak mengingat apa yang kita lihat, tidak menyadari bahwa apa yang kita cari bisa berubah dari waktu ke waktu, dan tidak mengomunikasikan pengamatan kita secara efektif. Oleh karena itu, kita juga perlu mengetahui dalam bentuk apa pengamatan akan dicatat. tertulis, dengan perekam suara, atau video. 2. Survei dan Wawancara Salah satu teknik atau metode terbaik dalam mendapatkan informasi adalah dengan wawancara, metode terkait yang secara khusus berguna untuk mendapatkan informasi dari berbagai orang adalah dengan survei atau kuesioner. survei dan wawancara dapat menggali pokok bahasan yang luas, dari keyakinan agama sampai kebiasaan seksual misalnya. Namun, satu masalah dengan survei dan wawancara adalah kecenderungan untuk menjawab pertanyaan. mereka akan menjawab pertanyaan yang mereka pikir bisa membuat pewawancara terkesan dengan menambah-nambahkan ataupun mengurangi apa yang ada. 3. Tes Terstandardisasi Menuntut Orang-orang untuk menjawab serangkaian pertanyaan tertulis atau lisan atau terkadang keduanya. sebuah tes terstandardisasi memiliki dua ciri khas: jawaban individu dihitung untuk menghasilkan skor tunggal, atau sekumpulan skor yang mencerminkan sesuatu mengenai individu, dan skor individu dibandingkan dengan skor pada kelompok yang lebih besar yang terdiri atas orang-orang serupa untuk menentukan bagaimana jawaban individu dibandingkan secara relatif dengan orang lain. salah satu tes terstandardisasi yang digunakan secara luas adalah tes kecerdasan dan skor-skor pada tes ini seringkali dinyatakan dalam persentil (perbandingan). Itulah ketiga metode penelitian deskriptif yang saya simpulkan secara ringkas. mungkin ada tambahan mengenai metode tersebut dari anda, silahkan anda cantumkan di kolom komentar. semoga metode tersebut bermanfaat bagi anda . terima kasih

persilangan monohibrid dan dihibrit

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Persilangan monohibrida adalah persilangan sederhana yang hanya memperhatikan satu sifat atau tanda beda. Percobaan ini akan diujikan pada lalat Drosophila dengan maksud untuk membuktikan Hukum Mendel I. Pada kasus dominant penuh, keturunan yang didapat pada F2 akan menunjukkan perbandingan fenotip dominan dan resesif 3 : 1 atau perbandingan genotip 1 : 2 : 1. Analisa dengan uji X2 hanya dilakukan untuk perbandingan fenotipnya. Persilangan ini bersifat resiprokal, artinya penggunaan individu jantan dan betina dengan satu tanda beda tertentu dapat sesuka hati tanpa ada pengaruhnya dalam rasio fenotip generasi kedua (F2). Persilangan dihibrida merupakan perkawinan dua individu dengan dua tanda beda. Persilangan ini dapat membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. kenyataannya, seringkali terjadi penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot letal dan sebagainya. Masalah penurunan sifat atau hereditas mendapat perhatian banyak peneliti. Peneliti yang paling popular adalah Gregor Johann Mendel yang lahir tahun 1822 di Cekoslovakia. Pada tahun 1842, Mendel mulai mengadakan penelitian dan meletakkan dasar-dasar hereditas. Ilmuwan dan biarawan ini menemukan prinsip-prinsip dasar pewarisan melalui percobaan yang dikendalikan dengan cermat dalam pembiakan silang. Penelitian-penelitian Mendel menghasilkan hukum Mendel I dan hukum Mendel II. Mendel melakukan persilangan monohibrid atau persilangan satu sifat beda, dengan tujuan mengetahui pola pewarisan sifat dari tetua kepada generasi berikutnya. Persilangan ini untuk membuktikan hukum Mendel I yang menyatakan bahwa pasangan alel pada proses pembentukkan sel gamet dapat memisah secara bebas. Hukum Mendel I disebut juga dengan hukum segregasi. Mendel melanjutkan persilangan dengan menyilangkan tanaman dengan dua sifat beda, misalnya warna bunga dan ukuran tanaman. Persilangan dihibrid juga merupakan bukti berlakunya hukum Mendel II berupa pengelompokkan gen secara bebas saat pembentukkan gamet. Persilangan dengan dua sifat beda yang lain juga memiliki perbandingan fenotip F2 sama, yaitu 9 : 3 : 3 : 1. Berdasarkan penjelasan pada persilangan monohibrid dan dihibrid tampak adanya hubungan antara jumlah sifat beda, macam gamet, genotip, dan fenotip beserta perbandingannya. Persilangan monohibrid yang menghasilkan keturunan dengan perbandingan F2, yaitu 1 : 2 : 1 merupakan bukti berlakunya hukum Mendel I yang dikenal dengan nama Hukum Pemisahan Gen yang Sealel (The Law of Segregation of Allelic Genes). Sedangkan persilangan dihibrid yang menghasilkan keturunan dengan perbandingan F2, yaitu 9 : 3 : 3 : 1 merupakan bukti berlakunya Hukum Mendel II yang disebut Hukum Pengelompokkan Gen secara Bebas (The Law Independent Assortment of Genes). Dengan mengikuti secara saksama hasil percobaan Mendel, baik pada persilangan monohibrid maupun dihibrid maka secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa gen itu diwariskan dari induk atau orang tua kepada keturunannya melalui gamet. B. RUMUSAN MASALAH Bagaimanakah sifat keturunan dari hasil persilangan monohybrid dan persilangan dihibrid melelui hokum Mendel? C. TUJUAN Mempelajari dan membedakan sifat dari keturunan hasil persilangan monohybrid dan persilangan dihibrid melalui hukum Mendel BAB II PEMBAHASAN Persilangan monohibrida adalah dasar untuk ilmu genetika Mendel. Persilangan semacam itu dapat terjadi dalam semua kelompok organisme utama yang bereproduksi secara seksual. Dominansi adalah interaksi antar alel, dan alel yang dominan biasanya adalah yang menghasilkan produk yang fungsional sedang alel yang resesif adalah yang tidak menghasilkan. Oleh karena itu, fenotip yang normal atau yang berjenis liar adalah yang paling sering diproduksi ketika ada alel yang dominan. Persilangan monohibrid juga dikatakan sebagai perkawinan yang menghasilkan pewarisan satu karakter dengan dua sifat beda. Misalnya warna bunga adalah karakter tanaman yang diamati. Mendel melihat ada dua sifat dari karakter warna bunga tanaman kacang kapri, yaitu warna ungu dan warna putih. Bila tanaman kacang kapri berbunga ungu disilangkan dengan tanaman kacang kapri berbunga putih, maka generasi anakan mereka adalah 100% tanaman berbunga ungu. Persilangan dihibrid atau dihibridisasi adalah suatu persilangan (pembastaran) dengan dua sifat beda. Dalam percobaannya tentang prinsip berpangan secara bebas (Hukum Mendel II), Mendel melakukan eksperimen dengan membastarkan tanaman Pisum sativum bergalur murni dengan memperhatikan dua sifat beda, yaitu biji bulat berwarna kuning dengan galur murni berbiji kisut berwarna hijau. Dalam membuat perhitungan prediksi kombinasi alel pada tanaman dua jenis, Mendel menganggap bahwa gen-gen pembawa sifat itu berpisah secara bebas terhadap sesamanya sewaktu terjadi pembentukan gamet. Terminology Untuk mengerti jalannya penelitian Mendel perlu dikenal beberapa istilah a) P = Parental b) F = Filia, F1,F2,F3….. c) Fenotif = karakter (sifat ) yang dapat kita amati (bentuk, ukuran, warna, golongan darah, dan sebagainya). d) Genotif = susunan genetic suatu individu (jadi sesuatu yang tidak dapat diamati). e) Genotif suatu individu di beri simbul dengan huruf dabel, karena individu itu umumnya diploid misalnya: RR = genotif untuk tanaman berbunga merah rr = genotif untuk tanaman berbunga putih a) Homozigotik adalah sifat suatu individu yang genotifnya terdiri dari gen-gen yang sama dari setiap jenis gen. (misalnya RR, rr, AA,BB) b) Heterozigotik adalah sifat suatu individual yang genotifnya yang terdiri dari gen-gen yang berlainan( misalnya Rr,Aa,AaBb.) I. PERSILANGAN MONOHIBRID Mendel mengambil serbuk sari dari bunga tanaman yang bijinya berlekuk dan diserbukkan pada putik dari bunga tamaman yang bijinya bulat. Semua keturunan F1 yang berupa suatu hybrid berbentuk tanama yang bijinya bulat. Ketika menyilangtanam-tanaman F1 didapatkan keturunan F2 yang memperlihatkan perbandingan fenotip kira-kira 3 biji bulat : 1 biji berlekuk. P : genotip : BB X genotip : bb Fenotip: Bulat ( homozigotik) fenotip: Berkerut ( homozigotik) F1 : genotip: Bb Fenotip: Semua bulat ( heterozigotik ) F1xF2 : genotip: Bb X genotip: Bb Fenoti: Bulat ( heterozogotik) fenotip: Bulat ( heterozigotik) Meiosis Serbuk sari 2 macam: B dan b Sel telur 2 macam: B dan b F2: B b B BB Bulat 1 Bb Bulat 2 B Bb Bulat 3 Bb Berkerut 4 Disini tampak bahwa bila terdapat dominasi sepenuhnya, maka persilangan monohybrid menghasilka 4 kombinasi dalam keturunan dengan perbandingan fenootip 3 : 1. Juga dapat diketahui bahwa suatu individu dapat memiliki fenotip sama ( contohnya tanaman berbiji bulat ) tetapi memiliki genotip yang berlainan ( contohnya BB dan Bb). Dari percobaa di atas Mendel dapat mengambil kesimpulan bahwa pada waktu pembentukan gamet-gamet ( serbuk sari da sel telur ) maka ge-gen yang menentukan suatu sifat mengadakan segregasi ( memisah), sehingga setiap gamet hanya menerima sebuah gen saja. 1) PERSILANGAN RESIPROK Persilangan resiprok (persilangan kebalikan) ialah persilangan yang merupakan kebalikan dari persilangan yang semula dilakukan. Sebagai contoh dapat digunakan percobaan Mendel lainnya: H = gen yang menentukan buah polong berwarna hijau h = gen yang menentukan buah polong berwarna kuning Mula-mula serbuk sari dari bunga pada tanaman berbuah polong hijau diserbukkan pada putik bunga pada tanaman berbuah polong kuning. Pada persilangan berikutnya cara tersebut di atas dibalik. Dari kedua macam persilangan tersebut ternyata didapatkan keturunan F1 maupun F2 yang sama. P hh X HH Kuning hijau F1: Hh hijau serbbuk sari: H dan h sel telur: H dan h F2: HH= polong hijau Hh= polong hijau Hh= polong hijau hh= polong kuning Persilangan resiproknya P : HH X hh Hijau kuning F1 : Hh Hijau Serbuk sari : H dan h Sel telur : H dan h F2 : HH = polong hijau Hh = polong hijau Hh = polog hijau hh = polong kuning 2) Persilanga kembali (backcross) Merupakan persilangan antara hibrit F1 dengan induknya jantan atau betina. Contoh : marmot B = gen untuk wara hitam b = gen untuk wara putih Marmot jantan hitam homozigotik BB dikawinkan dengan marmot betina putih homozigotik bb menghasilkan keturunan F1 seragam, yaitu Bb berwarna hitam. Jika marmot F1 disilangkan kembali dengan induk jantan (hitam homozigotik) maka semua marmot F2 berwarna hitam, miskipun genotifnya berbeda. P : BB X bb Hitam putih F1 : Bb Hitam Backcross : BB X Bb Hitam hitam F2 : B B BB (hitam) b Bb (hitam) 3) Uji silang (testcross) Merupakan persilangan antara hybrid F1 dengan individu yang homozigitik resesif. Jika digunakan induk seperti pada contoh di atas, hybrid F1 dikawinka dengan induk betina (homozigotik resesif). Uji silang pada monohybrid ini menghasilkan ketuurunan dengan perbandingan fenotip maupun genotif sebagai 1 : 1. Jadi , uji silang itu dapat merupakan backcross, akan tetapi belum tentu ujisilang. P : BB X bb Hitam putih F1 : Bb Hitam Ujisilang : Bb x bb Hitam putih F2 : B B b Bb (hitam) bb (putih) 4) Sifat intermedier Sifat intermedier adalah sifat diantara yang dimiliki oleh kedua induknya. Sebagai contoh dapat digunakan penyerbukan silang pada tanaman Bunga pukul empat (Mirabilis jalapa). Jika serbuk sari berasal dari tanaman berbunga merah homozigotik (genotif MM )diberikan kepada putik dari tanaman berbunga putih (genotif mm ). Maka, didapatkan F1 heterozigot berbunga merah jambu (genotif Mm). warna merah jambu ini disebut warna intermediet. Jika tanaman F1 dibiarkan mengadakan penyerbukan sendiri dan kemudian biji-biji ditanam, didapatkan keturunan F2 yang memperlihatkan perbandingan fenotip 1 merah : 2 merah jambu : 1 putih. Pada keturunan berikutnya F3 maka tanaman-tanaman yag berbunga merah akan menghasilkan tanaman berbunga merah. Demikian pula tanaman yang berbunga putih akan menghasilkan tanama yang berbuga putih. Akan tetapi tanaman yang berbunga merah jambu akan selalu menghasilkan keturunan yang memisah dengan perbandingan 1 : 2 : 1. P : mm x MM Putih merah F1 : Mm Merah jambu Serbuk sari : M dan m Sel telur : M dan m F2 : MM Mm Mm mm Merah merah jambu merah jambu putih F3 : MM MM, Mm, Mm, mm MM, Mm, Mm, mm mm II. PERSILANGAN DIHIBRID Persilangan dihibrid merupakan persilangan dengan dua sifat beda. Mendel menggunakan dua sifat beda dari tanaman ercis, yaitu bentuk dan warna biji. Oleh Mendel, tanaman ercis biji bulat kuning disilangkan dengan tanaman ercis biji berkerut hijau. Hasilnya, semua keturunan F1 berupa taaman ercis biji bulat kuning. Pada persilangan antar individu F1 didapatkan 16 kombinasi gen dengan 4 fenotip, yaitu tanaman ercis biji bulat kuning, biji bulat hijau, biji berkerut kuning, dan biji berkerut hijau. Misalnya diketahui gen-gen yang menentukan sifat biji tanaman ercis sebagai berikut: 1. B = gen yang menentukan biji bulat 2. b = gen yang menentuikan biji berkerut 3. K = gen yang menentukan biji berwarna kuning 4. k = gen yang menentukan biji yang berwarna hijau P : BBKK X bbkk Bulat kuning berkerut hijau Sel telur BK serbuk sari bk F1 : BBKK Bulat kuning Serbuk sari : BK, Bk, bK, bk Sel telur : BK, Bk, bK, bk F2 : BK bK bk BK BBKK BbKK BbKk Bk BBKk BbKk Bbkk bK bbKK bbKK bbKk bk BbKk bbKk bbkk BAB III PENUTUP  KESIMPULAN Persilangan monohibrida adalah dasar untuk ilmu genetika Mendel. Persilangan semacam itu dapat terjadi dalam semua kelompok organisme utama yang bereproduksi secara seksual. Dominansi adalah interaksi antar alel, dan alel yang dominan biasanya adalah yang menghasilkan produk yang fungsional sedang alel yang resesif adalah yang tidak menghasilkan. Oleh karena itu, fenotip yang normal atau yang berjenis liar adalah yang paling sering diproduksi ketika ada alel yang dominan. Persilangan monohibrid juga dikatakan sebagai perkawinan yang menghasilkan pewarisan satu karakter dengan dua sifat beda. Misalnya warna bunga adalah karakter tanaman yang diamati. Persilangan dihibrid atau dihibridisasi adalah suatu persilangan (pembastaran) dengan dua sifat beda. Dalam percobaannya tentang prinsip berpangan secara bebas (Hukum Mendel II), Mendel melakukan eksperimen dengan membastarkan tanaman Pisum sativum bergalur murni dengan memperhatikan dua sifat beda, yaitu biji bulat berwarna kuning dengan galur murni berbiji kisut berwarna hijau. Dalam membuat perhitungan prediksi kombinasi alel pada tanaman dua jenis, Mendel menganggap bahwa gen-gen pembawa sifat itu berpisah secara bebas terhadap sesamanya sewaktu terjadi pembentukan gamet. DAFTAR PUSTAKA